“Aku tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa, Kar,” ucap Wahyu saat mengatakan niat mengirim surat ke Presiden.
Sore itu, mereka berdua duduk sambil memandangi pekarangan peninggalan Marni. Ranting pepohonan itu bergerak mengikuti tiupan angin sore. Sementara di beberapa titik bisa terlihat jelas bekas galian yang akan dijadikan patok pembangunan.
Kardi masih ingat, saat Wahyu menyerahkan surat itu sambil berkaca-kaca beberapa minggu lalu. “Aku titip harapanku padamu, Kar.”
Tak kuasa hati Kardi menahan air mata. Kedua sahabat itu menangis sejadi-jadinya. Orang-orang yang lalu lalang pun melihat mereka dengan tatapan aneh.
Kardi pun memperlakukan surat itu secara spesial. Saat menyortir surat, dia pisahkan surat Wahyu dari surat-surat lain. Ketika dikirim ke Ibu Kota, dia minta temannya yang bekerja di sana memastikan surat itu baik-baik saja dan sampai ke tujuannya: rumah Presiden.
Maka pagi ini, ketika Wahyu dengan emosi menggedor-gedor pintu rumahnya dan menuduh dia mengkhianati, bukan amarah yang muncul di hati Kardi. Namun rasa iba. Sudah sedemikian frustrasikah sahabatnya itu sampai kehilangan akal sehat? Dia merangkul Wahyu sambil mengelus-elus pundaknya. Maka pecahlah tangis Wahyu pagi itu.
“Mereka sudah membangun tembok di pekaranganku, Kar. Pohon peninggalan Marni juga sudah mereka tebang,” Wahyu bercerita sambil terisak-isak.
“Mungkin memang sebaiknya kaujual saja pekarangan itu. Jangan khawatir, Sahabat, keikhlasan dan perjuanganmu akan diganjar pertemuan dengan Marni di tempat yang lebih kekal kelak,” ujar Kardi sambil menggigit bibir, menahan haru.
Sembari sesenggukan, Wahyu mengangguk perlahan.