Suamiku Ingin Mati di Wawonii

“Baru hari ini saya kembali ke Wawonii setelah menikah dengan Rustam.”

“Empat tahun?” tanya saya agak heran.

Ia mengangguk mantap.

“Suami kamu sekarang di mana?”

“Di kapal ini.”

“Di kapal ini? Di mana?”

“Di kamar ABK.”

“Kenapa?”

“Ia sakit. Saya membawanya ke kampung untuk berobat.”

“Kenapa kamu di atas sini? Kenapa tidak menjaganya?”

“Ia sedang tidur sekarang. Biarlah ia istirahat.”

Sebenarnya banyak yang saya ingin tanyakan. Namun, entahlah, saya hanya mampu membisu seraya menatap ombak berkejaran.

2/

Tiga jam sebelumnya.

“Tahan sakitnya ya, Rus, sebentar lagi kita ke pelabuhan,” bujuk Nining.

Rustam diam, tak menyahut atau mengangguk. Di dalam taksi sepanjang perjalanan, Nining berusaha menghibur sang suami. Ia mengajak Rustam bicara dengan nada manis. Sesekali tangannya mengusap pelipis dan rambut Rustam yang acak-acakan. Sopir taksi yang mereka tumpangi, lelaki gemuk yang tampak baik hati, cuma sesekali melirik mereka lewat kaca spion.

“Sejak dulu kan aku sudah bilang, kita berobat ke Makassar saja, tapi kamu maunya ke kampung. Memang di kampung ada yang bisa mengobatimu?” Nining terus bicara sendirian. Rustam tergolek tanpa daya di jok belakang, di sampingnya.

Nining menyuruh sopir taksi mempercepat laju kendaraan, khawatir ketinggalan kapal. Ia tahu jadwal berangkat kapal kayu ke Pulau Wawonii tak pernah tepat. Kadang lebih cepat, kadang juga terlambat berjam-jam. Dalam hati ia berdoa semoga kapal belum berangkat. Kalau ia ketinggalan, pupuslah harapan membawa pulang Rustam ke kampung.

Arsip Cerpen di Indonesia