Suamiku Ingin Mati di Wawonii

3/

Dermaga Langara sudah tampak. Kami berhenti bercakap-cakap. Nining lekas berdiri dan minta diri untuk ke bawah, ke kamar sang suami berbaring. Ia menatap saya agak lama, membuat saya agak heran seraya berpikir pasti ada rahasia yang hendak ia katakan. Saya memberanikan diri bertanya.

“Ada apa?”

Ia mendekat lagi, mendekatkan mulut ke kuping saya. Suaranya halus dan dalam, meskipun agak gemetar.

“Suamiku ingin dikuburkan di Wawonii. Ia ingin mati di pulau itu.”

“Lantas apa masalahnya? Kan kamu membawanya pulang untuk berobat?”

“Ia sudah meninggal, sudah mati sejak dari rumah di Kendari.”

“Hah?”

“Jangan bilang-bilang ya,” bisiknya dengan wajah agak sedih.

“Soalnya kapal-kapal di sini dilarang membawa mayat. Pemali, kata mereka. Saya pun terpaksa melakukan ini untuk melaksanakan wasiat suami saya yang ingin dikuburkan di Wawonii.”

Saya belum mampu mencerna apa yang sesungguhnya terjadi ketika dari bawah terdengar teriakan seorang anak buah kapal. “Ada mayat dalam kapal ini! Siapa keluarganya? Siapa bertanggung jawab?” **

 

Arsyad Salam, menulis novel dan cerpen. Novel yang telah terbit Kidung dari Negeri Apung (2015), Jejak Manusia Langit (2016), dan Lintasan Menikung (2017). Kumpulan cerpennya Pasung Jiwa Merpati Putih (2016). Kini, dia tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Arsip Cerpen di Indonesia