Memasuki pintu gerbang pelabuhan, Nining sedikit lega ketika dari jauh melihat Kapal Fajar Fadilah masih tertambat di dermaga. Orang ramai naik-turun kapal. Pedagang asongan di mana-mana, berteriak menjajakan nasi bungkus, jagung rebus, dan air mineral.
Nining minta tolong sopir taksi membantu membopong Rustam ke kapal. Dalam hati ia berharap semoga tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya ia lakukan. Sengaja ia menutup kepala Rustam dengan kain panjang supaya tak terkena sinar matahari. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu ramai membicarakan keadaan Rustam yang telah lama diketahui sakit dan tidak sembuh-sembuh sampai sekarang. Orang-orang di pelabuhan siang itu dan hari-hari lain kebanyakan orang Wawonii juga. Mereka kenal Nining. Juga Rustam tentu saja.
“Kasihan ya,” kata seseorang.
“Memang ia sakit apa?”
“Saya dengar ia sakit jantung.”
Rustam dimasukkan dalam kamar kosong, kamar seorang anak buah kapal. Nining lega. Kembali ia mengusap kepala suaminya penuh kasih sayang. Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan agar perbuatan itu tidak diketahui penumpang lain di kapal. Apalagi sampai diketahui juru mudi. Bisa gawat urusan nanti. Tadi ia berdebar ketika seorang ABK berkata tubuh Rustam sudah pucat, mirip mayat.
“Jangan-jangan ia sudah mati,” kata orang itu.
Nining menyahut cepat, Rustam cuma tak sadarkan diri. Penyakitnya memang gawat. “Ia pernah pingsan dua hari,” ucap Nining untuk menenangkan diri sendiri.