Ars Longa, Vita Brevis

“Aih, aku ingin sekali bercerita tentang masa muda ayahku, tentu yang kuketahui dari ibuku, dan langsung dari sumbernya, ayahku,” seruku kegirangan sendiri.

Kucing-kucing si Farel, tetanggaku, yang semula anteng terkantuk-kantuk saling peluk dan garuk-garuk bulu di depan teras rumahku mendadak terbangun dan mengeong. “Sabar, ya, Mpus!” kataku pada kucing-kucing itu setengah berbisik, separuhnya lagi menghardik. Kucing-kucing Farel beranjak pergi berhamburan sambil mengibas-ibas ekor mereka, melirikku dengan benci.

Namun ada yang mengganjalku. Apabila aku yang bercerita, tentu cerita ini akan bertutur dengan naratornya aku sebagai “Aku”, aku yang sebagai sudut pandang orang pertama. Hal ini tentu tidak adil, aku hanya akan menyerupai Haruki Murakami yang serbatahu dalam novel-novelnya. Lagi pula, saat ini aku akan berulang tahun yang ke-6 di bulan Oktober nanti. Jadi tak mengapa aku menjadi bocah sok tahu untuk sementara waktu.

Namun, setelah kupikir-pikir, tak jadi perihal luar biasa dan merepotkan bagiku, bahkan aku pernah dengar ada cerita yang diceritakan oleh seekor monyet, anjing, babi, kecoak bahkan sebuah benda mati sekalipun sebagai orang pertama yang bertutur. Dengan begitu, hal itu memberikan peluang bagiku untuk bercerita tentang ayahku saat ia masih belia, atau siapa saja yang terlibat dalam kisáh ayahku. Mungkin, atau bisa jadi, Anda juga akan terlibat dalam cerita ini. Seru, bukan?

Iya, ya ya. Aku sudah menduga, kalian akan mengatakan secara lugas bahwa aku anak kecil sok tahu, anak kecil yang terlalu banyak berkhayal, imajinatif, maniak fantasi, dan sekadar berbual. Bukankah hal itu ciri khas anak kecil sekali untuk tidak menuliskannya banget. Dan sudah kukatakan pada paragraf sebelumnya. Hal ini membuatku terkikik.

Sebentar.

Hari ini masih pagi, hari Minggu. Ayah dan ibuku masih tidur ketika ayam jantan peliharaan Pak Tohir, bapaknya si Farel, berkokok lima belas kali. Aku sangat tak paham, mengapa ayam Pak T’ohir itu selalu berkokok lima belas kali, tak kurang pun tak lebih. Padahal, apabila patokan hitungan adalah jam, seharusnya ayam itu berkokok 12 kali sesuai angka pada jam, angka 1 hingga 12. Atau 24 kali, sesuai hitungan dalam 1 hari terdiri atas 24 jam. Bisa juga 7 kali, secara simbolik bahwa 7 kali merupakan jumlah hari itu dalam 1 minggu dengan sebutan hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Ya, hari ini hari Minggu, hari ke-7. Seharusnya ayam Pak Tohir berkokok cukup 7 kali pertanda ini hari, hari Minggu. Kulihat jarum pendek pada jam dinding menunjukkan angka 8. Bolehlah juga setelah ayam itu berkokok 7 kali, lantas menyambungnya dengan berkokok sebanyak 8 kali pertanda jam saat ini. Lho? Ya ampun! Bukankah secara matematis kokok ayam 15 kali tadi sudah menerjemahkan hari ke-7 dan tepat pukul 8 pagi ini. Betapa tololnya aku ini. Tapi, maklumlah aku kan hanya anak kecil.

Arsip Cerpen di Indonesia