Ars Longa, Vita Brevis

Itu dugaanku. Aku tidak begitu yakin apa aktivitasnya.

Kembali ke suasana rumahku saat ini.

Ayah dan Ibu sudah bangun. Hal pertama yang dilakukan Ayah seperti yáng telah kuutarakan tadi. Ibuku membereskan rumah, lantas beberapa saat kemudian… mereka sudah mandi.

Aku melihat Ibu sedang menyisir rambutnya yang tebal dan panjang tergerai hingga ke pinggul. Ia terlihat begitu modis. Ia memandang wajahnya yang cantik dari pantulan cermin sambil bersenandung. Sesekali ia mengerlingkan matanya pada cermin itu. Wajahnya telah ia pulas dengan bedak dan bibirnya telah ia poles dengan lipstik merah cerah. Ia terlihat begitu narsis. Entah apa yang ada di benaknya saat ini. Kini ia memperhatikan tatanan riasan wajahnya, membetulkannya sedikit, memastikan semuanya sudah terlihat sempuma. Cantik. Pantas saja ayahku jatuh cinta padanya.

Aku lihat Ayah mendekati Ibu. Ada perihal penting rupanya yang akan Ayah sampaikan hari ini pada ibuku. Ketika hal itu Ayah sampaikan, ibuku terperangah dan hampir saja terjerembap ke lantai, untung ia masih sempal bersandar pada kusen pintu kamar. Ketika aku dengar, Ayah mengatakan bahwa ia mengundurkan diri lagi dari tempatnya bekerja. Ibuku buru-buru menguasai dirinya dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya melalui mulutnya seperti saat ia melahirkanku, dulu. Ibuku berupaya mencerna perkataan Ayah, lantas ia memandang wajah Ayah dengan mata menyipit. Dahi ibuku mengerenyit membuat semacam tanda tanya besar di dahinya.

“Ya, aku berhenti bekerja lagi,” kata ayahku berupaya menjawab kerenyitan Ibu. “Ini bagian dari resolusiku tahun 2017!” lanjut Ayah mantap.

“Mau jadi apa kamu kalau tidak kerja?” tanya ibuku dengan ketus.

“Aku memutuskan untuk menjadi penulis saja, menulis cerpen dan novel,” jawab ayahku datar. “Seperti yang sudah kulakukan saat ini,” ujar ayah melanjutkan perkataannya lagi.

“Mau makan apa kita?”

Ars longa, vita brevis!” jawab ayah tegas.

Suara ibuku tiba-tiba melengking lantas menggelegar bagai gemuruh guntur di langit kelam dan siap menghancurkan plafon rumah kami yang mendadak berderak-derak.

“Koran, koran, Republika-nya udah ada, nih!” Suara Pak Badiru mengheningkan sejenak suasana panas yang mencemaskan ini.

Arsip Cerpen di Indonesia