Ars Longa, Vita Brevis

“Koran-koran!”

Di depan pagar, Pak Badiru loper koran langganan ayahku sudah berdiri. Sepeda ia sandarkan pada sisi pagar yang lain. Agak terlalu mainstream loper koran selalu menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, tapi kenyataannya demikian. Seperti seorang pacar yang menerima surat dari sang kekasih, aku berhambur ke arah pagar dengan mata berbinar-binar.

“Dek, bapakmu masih tidur, ya?” tanya Pak Badiru.

“Iya, Pak, biasaaa!” jawabku singkat dengan tarikan panjang pada kata biasa.

“Ini Kompas Minggu, ini Jawa Pos, ini Media Indonesia, ini Pikiran Rakyat, dan ini Nova… eh, ada Tribun Jabar, nih!” ujar Pak Badiru sambil mengangsur lima buah koran dan sebuah tabloid ke tanganku.

“Lho, koran Republika-nya mannaaaa?” sergahku dengan tarikan panjang pada kata mana.

“Astaga. Saya lupa bawanya, Dek!” Pak Badiru menepok jidatnya sendiri.

“Huh, dasar pikun!” gerutuku. Tentu dalam hati, tak sopan menghardik orang tua seperti Pak Badiru dengan suara lantang seperti toa masjid yang beberapa bulan lalu di Tanjung Balai dijadikan alat provokasi untuk membuat kerusuhan.

“Nanti siang saya ke sini lagi, ya, bilang ke bapakmu,” kata Pak Badiru seraya menaiki sepedanya.

“Oke, bos!” sahutku.

Sebenarnya Pak Badiru setiap hari Sabtu juga datang mengantar koran ke rumahku, ia mengantar Koran Tempo edisi Akhir Pekan dan Kompas edisi hari Sabtu. Ia hanya datang pada hari Sabtu dan Minggu, hari lain tidak.

Aku membawa koran-koran dan tabloid itu ke ruang tamu dan meletakkannya di atas meja tamu, sembari tanganku meraih remote televisi mencari saluran acara televisi kesukaanku Upin-Ipin, hore!

Nanti saat ayahku bangun, pastinya hal pertama dan utama yang ia lakukan adalah membuka halaman koran lembar demi lembar dengan antusias, lalu pada halaman tertentu ia akan berhenti, ia melumat isi lembar koran pada tangannya dengan bersemangat, lantas ia membuka halaman koran yang lain, berhenti pada halaman tertentu, dan semua koran yang ada ia begitukan. Setelah itu bergegas ia mengambil laptop, menyalakannya dan mengaktifkan koneksi internet, lantas ia larut dengan laptopnya, entah apa yang ia lakukan. Mungkin ia menemukan lowongan pekerjaan yang diiklankan di koran-koran itu lalu ia membuat surel lamaran pekerjaan.

Arsip Cerpen di Indonesia