Di tengah kecamuk pikirannya itu tiba-tlba Triman dikejutkan suara petir yang menggelegar amat keras. Tak lama kemudian disusul hujan yang cukup deras disertai angin kencang. Tak hanya itu, dari dalam rumah juga terdengar suara tangis anaknya yang baru berusia dua tahun.
“Kenapa Tito menangis?” ucap Triman kepada Peni setelah masuk kamar.
“Mungkin kaget mendengar petir itu tadi,” kata Peni sambil membenahi selimut dan meninabobokan anaknya agar tidur kembali.
***
Sebelum matahari terbit. Triman menuju kandang kambing miliknya. Di antara empat ekor kambing yang ada, Triman menuntun seekor kambing yang paling besar dan kemudian dibawa ke pasar yang tak jauh dari rumahnya. Setelah tawar-menawar yang cukup alot dengan calon pembeli, kambing miliknya akhirnya dilepas dengan harga Rp. 2.850.000.
Dengan membawa uang itu, entah mengapa tiba-tiba hati Triman menjadi berbunga-bunga sendiri. Keinginannya untuk membelikan kalung Peni akan segera terwujud. Peni tentu akan sangat bahagia, pikirnya.
“Ini uang dari jualan kambing. Kamu bisa membeli kalung hari ini. Jika masih kurang, kamu bisa cari pinjaman tetangga, tapi jangan banyak-banyak,” ucap Triman sambil menyerahkan uang.
Peni tersenyum. Uang di tangannya dihitung sebentar. “Enggak perlu cari pinjaman. Uang ini sudah cukup untuk beli kalung.” Peni lalu masuk ke kamar untuk berganti baju. Sesaat kemudian Peni sudah keluar lagi dan bergegas ke pasar hendak membeli kalung emas.
***