Kalung dan Ular di Mata Triman

Sudah satu minggu Peni memakai kalung emas hasil dari jualan kambing. Berbeda dengan sebelumnya, setelah memakai kalung emas itu wajah Peni terlihat berbinar. Seperti merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Tapi tidak demikian dengan Triman. Setelah Peni memakai kalung emas itu Triman seperti merasakan keanehan pada matanya. Tak hanya sekali dua kali, setiap kali memandang kalung emas yang melingkar di leher Peni, kalung emas itu kadang-kadang terlihat seperti ularyang hendak mematuk.

Masalah penglihatannya yang dirasakan cukup aneh, untuk sementara waktu sengaja dipendam di dalam hatinya sendiri. Triman tak menceritakan kepada siapa saja, termasuk kepada Peni. Tapi karena makin lama makin mengganggu pikirannya, akhirnya suatu malam Triman mengutarakan masalah penglihatannya kepada Peni.

“Jujur saja aku merasakan keanehan pada mataku setiap kali melihat kalung yang kaupakai itu,” ucap Triman pelan.

“Ada apa dengan kalung yang kupakai?” Peni agak terkejut dengan perkataan  yang baru saja keluar dari mulut Triman.

“Seringkali aku melihat kalung yang kaupakai itu seperti berubah menjadi ular yang hendak mematuk lehermu.”

“Hah! Apa?! Berarti kamu tak ikhlas membelikan kalung ini?! Tak perlu pakai alasan seperti itu. Kalau memang tak ikhlas, kalung ini dijual saja.” Peni tiba-tiba berkata dengan nada tinggi. Kemarahannya seperti meledak.

“Sabar dulu, jangan salah paham. Aku hanya ingin mengatakan soal penglihatanku. Jangan-jangan mataku memang tidak beres.”

Arsip Cerpen di Indonesia