“Tak perlu alasan ini itu!”
“Jangan marah. Maksudku, sore ini kamu akan kuajak ke dokter spesialis mata untuk memeriksakan mataku. Jangan-jangan mataku tidak beres.”
Mendengar perkataan Triman seperti itu, kemarahan Peni pun menjadi reda. Triman yang berada di dekatnya kemudian ditatap lekat-lekat. Sesaat kemudian Triman dan Peni pun pergi ke tempat dokter spesialis mata yang ada di kota.
“Mata Pak Triman normal.” kata dokter setelah melakukan pemeriksaan.
“Tapi, Dok, telah berulang kali mata saya ini jika melihat kalung yang dipakal istri saya kadang berubah wujudnya seperti ular,” sergah Triman yang di dalam hatinya belum percaya dengan hasil pemeriksaan dokter.
Dokter spesialis mata itu tersenyum. “Secara medis, mata Pak Triman memang normal. Tak ada penyakit atau gangguan pada mata Pak Triman.”
Sebenarnya Triman masih ingin berdebat panjang dengan dokter yang telah memeriksa matanya. Tapi karena tiba-tiba anaknya menangis terus dan Peni mengajak pulang, keinginan Triman itu terpaksa diurungkan.
Sesampai di rumah, Triman masih memikirkan perkara penglihatannya yang dirasakan tidak beres. Tapi tak lama kemudian tiba-tiba terdengar jeritan Peni yang cukup keras dari dalam kamar. Triman pun tersentak kaget begitu melihat kalung peni sudah tergeletak di lantai, putus setelah ditarik anaknya. (*)
Irul S Budianto, kelahiran Boyolali 22 Juli. Menulis cerpen, puisi serta esai sastra-budaya dan dimuat di sejumlah media. Kini tinggal di Desa Donohudan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah.