Pluppi bergidik ngeri melihat lautan luas dengan gelombangnya yang bergulung-gulung. Untung saja ketika dilepas oleh elang beberapa meter dari atas kapal, ia bisa mendarat tepat di sebuah tas biru. Tas biru yang melihat ketakutannya, mempersilkannya masuk lewat resletingnya yang terbuka cukup lebar. Setelah berhasil masuk, mereka lalu bercakap-cakap.
“Wah, kebetulan sekali. Tuanku juga akan menuju ke desa tersebut. Kau ikut saja bersama kami Pluppi,” ucap Tas Biru setelah mendengar cerita perjalanan Pluppi.
“Benarkah? Terima kasih Tas Biru. Kau baik sekali.”
Baca juga: Satu Nusa Satu Bangsa – Oleh Tyas KW (Kompas, 08 Juli 2018)
“Sama-sama Pluppi. Sekarang, kau istirahatlah. Perjalanan kita masih panjang,” ucap Tas Biru.
Pluppi mengangguk senang. Ia memang merasa sangat lelah. Ia menguap, lalu jatuh tertidur dalam dekapan Tas Biru yang hangat.
***
Campuran berbagai bau membangunkan Pluppi dari tidurnya. Pluppi melihat sekeliling, dan kagetlah! Ia berada di sebuah truk bak terbuka dengan berbagai macam sampah di sekelilingnya! Ia pasti ketahuan oleh Tuan Tas Biru dan tanpa pikir panjang Tuan Tas Biru langsung membuangnya saat itu juga.
“Kenapa wajahmu begitu khawatir amplop kecil? Nikmati saja perjalanan ini sebelum kita dimusnahkan secara massal,” ucap Plastik Makanan melihat raut wajah Pluppi yang tidak tenang.
Baca juga: Buah Ketekunan – Oleh Salsabila Zahratusysyita (Kompas, 16 September 2018)
Apa? Dimusnahkan? Tidak! Aku tidak boleh dimusnahkan. Tugasku belum selesai. Pekik Pluppi dalam hati. Ia kemudian beringsut menuju belakang truk. Ia mau meloncat saat itu juga sampai tiba-tiba ia merasakan ada sebutir tetes hujan yang menimpa tubuhnya.
“Tidaaak! Suratkuuu!” Pekik Pluppi.