Ia lalu cepat-cepat bersembunyi di sebuah kantung plastik. Suratnya tidak boleh rusak ataupun basah.
“Kalau kau ingin melaksanakan tugasmu dengan baik, kau tidak boleh bersikap ceroboh Amplop Kecil,” tegur Kaleng Makanan.
Baca juga: Kembang Api Rama – Oleh An Purbalien (Suara Merdeka, 24 Juni 2018)
“Kebetulan aku tahu alamat yang kau tuju. Alamat tersebut berada di balik bukit ketiga yang akan kita lewati nanti. Berdoalah semoga hujan cepat berhenti,” tambahnya.
Pluppi yang mendengar itu hanya terdiam. Dalam hati ia berdoa agar hujan cepat reda dan perjalanannya menyampaikan surat dimudahkan oleh Tuhan.
***
Hap! Akhirnya Pluppi berhasil mendarat dengan tepat di bahu seorang lelaki berjaket hijau yang melajukan motornya ke arah belakang bukit ketiga. Dengan tergesa Pluppi menuju ke saku jaket lelaki tersebut, kemudian bersembunyi di sana. Ia merasakan tubuhnya kembali hangat setelah diterpa udara dingin yang menggigit.
“Apa ini?” tiba-tiba motor yang ditumpanginya berhenti. Pluppi yang hampir terlelap terjaga seketika ketika ia merasakan ada jemari yang mencengekeram tubuhnya, dan tanpa ampun membuangnya saat itu juga.
“Tidaak!” Pluppi berteriak. Ia kembali melayang, kemudian jatuh di atas jalan aspal. Ia melayang lagi dan kini tersangkut di sela ranting pohon randu.
Baca juga: Pelangi Putih – Oleh Anton Dwi Ratno (Suara Merdeka, 08 April 2018)
“Burung, maukah kau mengantarku ke sebuah alamat yang ada di balik bukit ini?” tanya Pluppi kepada setiap burung yang lewat. Tapi semua burung yang ditanyainya tidak ada yang mau membantunya, dengan alasan hujan akan segera tiba.
Tes, tes, tes! Benar saja, rintik hujan turun dengan segera. Pluppi kemudian cepat-cepat bersembunyi di bawah daun yang lebar.
Wush… namun baru saja Pluppi berlindung, angin kencang tiba-tiba datang dan kembali menerbangkannya. Pluppi menabrak pohon, terguling di jalan aspal, melayang lagi, dan begitu seterusnya. Ia kini bahkan tak bisa melindungi sang surat yang sudah basah terkena hujan. Pluppi sedih. Ia kini hanya bisa pasrah mengikuti ke mana sang angin pergi.
***