Oleh Elisa DS (Kompas, 31 Desember 2017)

“SEBENARNYA, kita mau ke mana, Kak?” tanya Meta.
“Rahasia.” Kak Lia mengedipkan matanya. “Ayo berangkat.”
Sebentar kemudian, mereka berdua sudah melaju di atas motor. Semalam, Kak Lia berjanji membantu Meta dalam mengumpulkan bahan tulisan untuk tugas mengarang bertemakan Hari Cinta Satwa dan Puspa Nasional di sekolah Meta.
Setelah kurang lebih satu jam melintasi jalan-jalan di pusat kota Surabaya hingga mengarah ke bagian Timur Kota Pahlawan ini, Kak Lia lalu menghentikan motornya. Di depan mereka terbentang perairan luas yang dipenuhi pepohonan hijau.
“Tempat apa ini, Kak?” Meta mengedarkan pandangan.
“Ekowisata Hutan Mangrove Pamurbaya.”
Meta hanya melongo mendengarnya.
Kak Lia lalu berkata lagi, “Ekowisata adalah kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan, mangrove itu bakau, sedangkan Pamurbaya singkatan dari Pantai Timur Surabaya. Gimana, siap untuk mencatat?”
Meta pun mengangguk. “Siap. Meta ingin tahu jenis tanaman yang ada di kawasan ini, Kak.”
“Ada berbagai jenis tanaman yang bisa dijumpai di sini, seperti bakau, api-api, pidada, ketapang, dan nipah. Selain itu, banyak pula tumbuhan non bakau introduksi, yaitu hasil kegiatan reboisasi atau penghijauan kembali. Di antaranya waru laut, tanjang, nyamplung, dan bintaro,” tutur Kak Lia.
“Kalau satwanya apa saja, Kak?”
“Di Mangrove Pamurbaya, kita bisa menjumpai monyet ekor panjang yang hidup secara berkoloni atau berkelompok. Mereka memiliki peranan penting karena membantu penyebaran biji-bijian bakau. Beberapa jenis reptil seperti ular sanca, biawak, dan ular tambak juga menghuni kawasan hijau ini.”