Radio Bapak

Minah mengangguk, dan mohon pamit ke Bapak untuk kembali ke dapur mencuci piring. Belum sempurna Minah beranjak dari duduknya. Bapak bicara lagi.

“Bisa ambilkan radio kecil Bapak di samping ranjang!”

Minah mengangguk lagi dan segera ke kamar Bapak mengambil radio berukuran kecil itu. Bapak tak biasanya mendengarkan radio di beranda belakang. Biasanya sehabis duduk di beranda, sekitar jam 8 pagi Bapak akan masuk kamar dan mendengarkan radio. Radio Bapak akan terus berbunyi sampai menjelang adzan Zuhur. Kemudian Bapak sholat, makan siang dan masuk lagi ke kamar mendengarkan radio kesayangannya.

Tapi pagi ini Bapak ingin mendengar radio di beranda. Sesaat suara radio terdengar, sebuah lagu dangdut lawas yang penyanyinya sudah almarhum. Bapak terlihat khusuk mendengar lagu dangdut itu. Kepalanya sesekali mengangguk-angguk mengikuti irama itu. Gerimis tampak turun. Burung-burung beranjak mencari tempat berteduh. Bapak masih diam saja di Beranda. Aroma kemangi menembus ruang tengah rumah ini.

Aku ingat beberapa kisah tentang Radio Bapak dan apa yang sering Bapak bilang. Yang pertama kisah ketika aku pulang sekolah dan mencari makan di dapur. Aku tak memperhatikan Radio Bapak di pinggir meja makan. Aku tergesa sebab lapar dan tanpa sengaja menyenggol radio itu sampai jatuh. Antena-nya patah. Bapak marah bukan main. Satu jam Ia ngomel tak karuan sambil terus mengutak-atik radionya. Besoknya, Bapak bawa ke tukang servis. Si tukang servis menyarankan Bapak untuk beli radio baru saja. Bapak marah. Bapak mengambil radionya dan membawanya ke tukang servis lain. Lusa, radio itu kembali normal. Bapak tak keberatan saat tukang servis itu meminta bayaran yang lebih mahal dari harga radio itu sendiri.

Sejak kejadian itu Bapak menaruh radionya di kamar, tempat yang paling aman menurutnya. Bapak bilang, lewat radio itu Ia banyak belajar. Mulai tentang obat-obatan herbal untuk mengurangi penyakitnya, juga tentang berita politik di daerah. Bapak tau semuanya, meski hampir setahun terakhir Bapak tak pernah keluar rumah sebab kondisi tubuhnya semakin lemah saja.

“Han, radio ini adalah kehidupan. Radio ini banyak merekam peristiwa bersejarah. Bapak tidak tau musti ngapain jika saja radio ini tak ada. Dua puluh tahun radio ini setia menemani Bapak. Kau lihat Han, suara radio ini sangat bersih, meski cuaca apapun, saat badai sekali pun. Saat hujan lebat, angin kencang, suaranya tetap jernih Han”

Arsip Cerpen di Indonesia