Pernah Bapak bilang begitu, beberapa waktu lalu saat aku duduk di samping ranjangnya usai memberinya minum obat. Saat itu aku meminta Bapak mematikan radionya, namun Bapak malah ngomong panjang lebar. Omongannya terus memuji-muji radio kesayangannya itu.
Memang benar, radio Bapak gak ada matinya. Sejak aku kelas 1 SD dulu, suaranya tetap jernih, aku semasa kecil sering mendengar lagu India lewat radio itu. Pernah suatu hari, akibat letusan asap gunung agung, cuaca teramat buruk, bahkan sinyal HP sama sekali tak ada, namun radio Bapak suaranya tetap bening dan lantang. Bapak manggut-manggut, “kau dengar sendiri kan Han, radio Bapak tetap jernih” Kembali Bapak memuji-muji radionya.
***
Gerimis masih turun, Bapak masih duduk di beranda belakang. Suara radionya terdengar lantang. Kali ini yang terdengar adalah lagu Barat. Sebuah lagu tentang pertemuan dan kenangan di Tokyo. Bapak suka lagu itu, Ia bisa melantunkan iramanya meski tak akan pernah bisa liriknya. Aku mengintip Bapak dari ruang tengah. Minah yang duduk di sampingku pun tersenyum melihat gelagat Bapak. Bapak bersiul mengikuti irama lagu itu. Sesekali kepalanya digerakkan mengikuti irama. Kami terpingkal-pingkal tanpa sepengetahuan Bapak. Lima menit lagi azan Zuhur akan berkumandang, biasanya bapak akan mematikan radio dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’.
“Bapak sepertinya keasyikan tuh, sampai lupa bentar lagi adzan,” Minah berbicara sambil menuangkan teh untukku.
“Biarkan saja. Bapak bahagia dengan kesendiriannya,” Aku menjawab Minah, mataku tetap memperhatikan gelagat Bapak. Bapak bersandar pada korsi kayu tua, mulutnya terus bersiul-siul. Tiba-tiba terdengar memutar tombol untuk mencari saluran lain. Terdengar lagi suara nyanyian pop lama, tembang miliknya Poppy Mercuri. Tangan Bapak berhenti memutar tombol radionya. Sesaat Bapak termenung, sepertinya khusuk mendengar lagu tadi. Minah masih saja tersenyum. Teh hangat aku seruput sebentar. Adzan terdengar menggema dari musholla Baiturrahman.
Bapak masih bersandar, diam. Minah beranjak dan berjalan pelan mendekati Bapak. Sepertinya Bapak ketiduran. Minah memegang pundaknya, menyebut namanya dua kali. Namun tak ada respon. Suara lagu pop tadi tiba-tiba mengabur, berganti suara gelombang angin yang cukup besar. Sepertinya sinyal tak ada, dan ini kali pertama aku mendengar suara radio Bapak hanya suara angin. Minah menggerakkan pundak bapak beberapa kali. Namun tak pernah ada jawaban. Aku pun berjalan mendekati Bapak. Aku memanggilnya berulang, memegang pundaknya dan mendekatkan wajahku di wajah Bapak. Tetap tak ada jawaban. Suara gelombang angin semakin besar. Ribut.