Mata Bapak tetap saja terpejam. Kami berdua terus memanggil sembari menggerak-gerakkan badannya. Tak ada respon sama sekali. Minah menangis, pikirannya mulai tak karuan. Sampai Ia teriak menyebut nama Bapak, Bapak hanya diam saja kaku.
***
Aku tak menyangka, Bapak pergi selamalamanya, menyisakan tangis kesedihan bagi kami yang menyayanginya. Sampai sekarang, radio Bapak masih terpajang di ruang tamu. Tiap kali aku nyalakan, hanya terdengar suara gelombang angin. (***)
Â
Majidi, Januari 2018
Rifat Khan. Lahir di Pancor NTB pada tanggal 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat Metro Riau, Majalah Cempaka, Suara NTB, Radar Surabaya, Harian Waktu, Lombok Post, Harian Rakyat Sumbar, Satelit Post, Bali Pos, Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Riau Pos dan Republika. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.