Sumpah Maryam

Maryam berjanji akan mengobati penyakit ibunya sesegera mungkin. Maka setiap pagi dia kembali ke rumah Karsa, bekerja menjadi pembantu. Setiap hari Maryam menguras tenaga mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Dari mulai membersihkan rumah, memasak, berbelanja ke pasar, sampai mencuci motor bebek yang biasa Karsa gunakan untuk mengojek. Maryam mengerti mengapa Farida yang sebagai seorang istri enggan mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Maryam sadar bahwa majikannya adalah wanita pemalas. Pernah sesekali Maryam libur kerja sehari, Farida teriak seperti orang kesetanan karena gelang imitasi yang dipakainya tersiram air ketika Karsa menyuruh istrinya itu mencuci bekas makannya sendiri.

Ada satu malam yang mengharuskan Maryam menginap di rumah Karsa, adalah ketika pekerjaan terlampau banyak. Maryam diminta menyiapkan dan membereskan hidangan untuk kocokan arisan yang sudah dijadwalkan di rumah majikannya. Malam itu waktu hampir menunjukkan pukul sebelas tiga puluh. Namun jari-jari Maryam masih sibuk menggosok noda minyak di setumpukan piring kotor.

Di kamarnya, Farida sudah tertidur pulas bersama uang arisan yang didapatnya sore tadi. Karsa, suaminya baru akan keluar ngojek. Namun, Karsa mendengar suara gemericik air dari dapur. Karsa tahu bahwa Maryam, pembantunya yang punya kaki jenjang itu masih sibuk mencuci piring. Karsa masuk melalui pintu dapur, “He, Maryam. Kamu ke pasarnya sekarang saja, ya. Supaya besok pagi kamu tidak perlu ke pasar lagi,” ujar Karsa. “Tapi, Pak. Ini sudah terlalu larut untuk belanja ke pasar. Lagian, Ibu juga belum beri saya uang belanja untuk besok.” Maryam menimpali. “Masalah uang, gampang. Nanti kuberi. Ayo, mumpung saya mau berangkat ngojek. Sekalian jalan, maksudnya”.

Maryam pun menuruti perintah Karsa untuk berbelanja ke pasar pada malam yang hampir pukul dua belas dini hari itu. Di tengah jalan menuju pasar, motor Karsa berbelok ke arah pabrik tahu. Jalanan sepi. Tengkuk leher Maryam bergidik. Bajunya yang tipis tidak cukup mahal untuk dapat melindungi tubuhnya dari hawa dingin. Beberapa kilometer dari pabrik tahu, Karsa memberhentikan motor bebeknya tepat di depan sebuah ranggon kecil yang terbuat dari kayu. Maryam mulai ketakutan. Tengkuk lehernya semakin dingin. Pelan-pelan, Karsa menuntun Maryam ke arah ranggon dan mulai melucuti pakaiannya. Tanpa disadari, air mata Maryam menetes jatuh tepat membasahi kerah bajunya. Karsa bukan lelaki pertama yang menyentuhnya.

Arsip Cerpen di Indonesia