Ketika Maryam berusia dua belas tahun, Sasmita, mantan pacarnya adalah lelaki pertama yang meremas payudaranya. Tapi hanya sebatas itu. Maka, di usianya yang ke lima belas, Karsa adalah satu-satunya lelaki yang mencuri keperawanannya.
Beberapa bulan kemudian, Maryam menyadari banyak hal yang berubah dari dirinya. Hal yang tampak sangat jelas adalah kantung yang menggelambir di bawah matanya. Dan bokongnya, kini membesar. Maryam berpikir bahwa dirinya terlampau banyak makan. Karena Maryam sering mengeluh sakit kepala, Farida mengizinkannya untuk tidak bekerja selama dua hari, tetapi Maryam menolak. Maryam kembali ke dapur, menanak nasi, memasak lauk, dan merebus air untuk mengisi termos. Pada saat air itu mendidih, Maryam mengambil sebuah gayung dari dalam kamar mandi, dan menuangkan air panas itu ke kakinya. Kini, Maryam memiliki alasan yang cukup dramatis untuk tidak lagi bekerja di keluarga Karsa.
Maryam kembali ke rumah dan mengurus ibunya yang mendapat penyakit kiriman. Setiap malam, Maryam diteror dengan kenyataan bahwa ada banyak sekali paku di bawah kolong tempat tidur ibunya. Beberapa bulan berlalu, dan perut Maryam semakin membuncit. Maryam tahu di dalam perutnya tengah menyimpan seseorang. Tapi Maryam tidak peduli. Dia tidak peduli pada kesehatannya, pada wajahnya, pada kepalanya yang kini menjadi sarang kutu. Maryam juga menutup telinga rapat-rapat pada kasak-kusuk Farida dan ibu-ibu kampung yang membincangkannya di warung-warung sambil memilih model emas imitasi terbaru. Satu-satunya hal yang Maryam pedulikan hanya kesehatan ibunya.
Hingga suatu saat Nyai Ronde berhasil menyembuhkan ibu Maryam dengan cara yang tidak pernah diberitahunya kepada siapa pun.
Pada suatu sore hari yang terik, pintu rumah Maryam yang terbuat dari pelepah bambu disapa orang. Suara laki-laki. Maryam membuka pintu, dan kaget setengah mati ketika melihat Karsa telah berada di hadapannya. “Mengapa kau tak bilang padaku?” Karsa menanyakan hal itu dengan raut wajah yang berempati. Matanya yang kanan menatap Maryam, dan mata yang satunya lagi melirik perut Maryam yang sudah membesar. “Apa kau membiarkanku mengajukan pertanyaan yang sama ketika kau hendak memperkosaku?” Ketika mengatakannya, raut wajah Maryam berubah dingin. “Mengapa kau tak bilang padaku bahwa saat itu kau tak hendak mengantarku ke pasar. Melainkan malah memperkosaku di dekat pabrik tahu?”