“Dengar, Maryam. Saya sangat menyesal. Saya memang bersalah. Tapi saya ke sini untuk meminta maaf padamu. Dengar, sebentar lagi saya akan menjadi lurah di kampung ini. Farida memaksa saya untuk mencalonkan diri, kau tahu. Kami menjual tanah pekarangan yang ada di dekat ladang, dan uangnya kini habis dibagikan kepada orang-orang dan rekan ojek di pertigaan.” Karsa termangu sejenak, dan mulai membujuk Maryam.“Kalau kau mau, saya akan bertanggung jawab, menikahimu dan memberimu kehidupan yang lebih layak. Saya akan buatkan kau rumah yang jaraknya beberapa kilometer dari desa ini, dan kau akan aman tinggal di sana bersama anakmu, dan saya akan menjengukmu sesekali. Tapi, jangan sekali-kali kau menceritakan hal ini pada siapa pun, Maryam, saya mohon. Jangan ceritakan hal ini pada Farida.” Ketika mengatakan kalimat terakhir, suara Karsa lebih terdengar seperti rintihan.
“Tak usah Bapak buang-buang uang untuk menghidupi saya dan bayi ini. Saya tidak sudi menjadi gundik Bapak. Tenang saja, Bapak akan tetap bisa tidur nyenyak setiap malam. Saya tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun, asal Bapak tak pernah datang ke sini lagi, dan jangan pernah mengakui bahwa bayi ini adalah anak Bapak. Biarkan dia tumbuh tanpa laki-laki yang akan disebutnya Bapak.” Maryam menutup pintu rumahnya. Di luar, Karsa meneteskan air matanya.
Malam itu udara sangat dingin, sinar bulan di langit terlalu pucat untuk membuat malam menjadi lebih bersinar. Di dalam sebuah rumah berpelepah bambu, seorang wanita muda tengah mengejan berusaha mengeluarkan anak manusia dari dalam rahimnya. Sakit yang didera Maryam untuk melahirkan bayi ini tak sebanding dengan rasa sakit yang diterimanya di masa lalu. Nyai Ronde, satu-satunya wanita tua yang bisa segala hal di kampung itu, ikut membantu persalinan Maryam. Di samping tempat tidur, ibu Maryam menenangkan anaknya yang tengah kesakitan. “Sabar, wong ayu, sebentar lagi anakmu akan lahir,” ibu mengelap keringat Maryam yang mengalir di dahinya. Tepat pukul sebelas malam, seorang bayi perempuan lahir.
“Bocah bagus, akhirnya kau keluar juga, Nak…. Mulai sekarang, kau akan dipanggil Maryamah. Namamu hampir sama dengan nama ibumu, Nak.” Bayi perempuan itu mendapat timangannya yang pertama dari sang nenek. “Kau mau lihat anakmu, Maryam? Ayo, lihat anakmu.” Ibu memberikan bayi perempuan itu kepada Maryam. Maryam menggendongnya, dan membisikkannya sesuatu, “Dengar, Maryamah. Semua laki-laki itu bajingan. Anggap saja mereka itu sebuah dosa sehingga kau tak perlu mendekatinya.” (*)
Penulis adalah kelahiran Indramayu, Jawa Barat.