Terbongkar

“Kalau begitu kau aman.”

“Belum tentu juga.”

“Kok belum tentu? Dia kan juga mengenalmu sebagaimana kau mengenalnya.”

“Ya. Tapi kadang dia suka berubah-ubah pikiran.”

Percakapan terhenti. Yang satu tersenyum simpul. Yang satunya heran, kenapa temannya malah tersenyum seperti itu.

“Kenapa kau tersenyum, padahal aku pusing memikirkan rumitnya masalah ini.”

“Tenang, tenang. Kau tadi bilang teman sejak kecil dan dia suka berubah pikiran. Itu dapat kau manfaatkan untuk mengubah situasi.”

“Mengubah situasi yang seperti apa maksudmu?”

“Sebentar. Dia suka makan apa?”

“Lho kok malah percakapan bergeser ke makan segala.”

“Sebentar. Sabar. Dia paling suka makan apa sih?”

“Sate. Segala macam sate dia suka.”

“Nah, bilang padanya kalau kau mau mengundang dia makan sate yang paling enak di kota ini. Bilang kalau kau mentraktir dia untuk merayakan ulang tahunmu. Nah saat makan sate itulah kau harus bisa mengubah pikirannya.”

“Maksudmu?”

“Kau bilang saja padanya, bahwa ada posisi yang lebih mulia dan kerjanya lebih ringan dibanding menjadi direktur perusahaan. Yaitu menjadi komisaris utama.”

“Tapi,masalahnya, komisaris utama sekarang dipegang ayah boss kita ini.”

“Kalau dia yang meminta kedudukan itu, pasti ayahnya akan setuju. Kalau perlu kau yang membujuk ayahnya itu.”

Arsip Cerpen di Indonesia