“Karena pemilik warung serba ikan itu adikku. Dia memergokimu ketemu ayah temanku setelah kita ketemu disana. Waktu kau dan ayah temanku merancang skenario untuk mengangkatmu sebagai direktur dan membuang aku di kursi komisaris, adikku sempat merekam percakapanmu itu. Dia lalu memberikan rekaman percakapanmu dan ayah temanku itu padaku. Gimana? Masih mau membantah?”
Lelaki itu diam. Dia mengambil map dan uang dalam amplop. Pergi tanpa pamit. n-e
Yogyakarta, 2018