Terbongkar

Teman yang teman direktur sejak kecil itu mulai paham dengan alur pikiran temannya. Hanya dia yang belum paham akan langkah selanjutnya. Kalau direktur itu menjadi komisaris. Siapa penggantinya?

“Pasti kedudukan direktur itu akan jatuh ke tanganmu. Karena kau berjasa mengangkat temanmu jadi komisaris dan karena ayahnya tahu kau temannya sejak kecil, apalagi di perusahaan tempat kita bekerja ini, kau adalah karyawan paling senior. Ayahnya sudah mengenalmu dan tahu prestasimu di kantor kita ini.”

Sambil mengangguk-angguk bahagia lelaki calon direktur itu berkata, “Mudah-mudahan begitu.”

“Ya, mudah-mudahan begitu. Saya yakin perusahaan tempat kita bekerja ini akan lebih selamat kau pegang ketimbang dia pegang.”

Tiga bulan setelah itu terjadilah apa yang mereka harapkan. Direktur baru itu naik menjadi komisaris, dan temannya menjadi direktur baru. Saat temannya yang memberi gagasan segar itu masuk ruangan untuk memberi ucapan selamat, sang direktur baru menjabat tangannya lalu menyerahkan map dan amplop berisi uang yang sangat banyak.

“Lho, ada apa ini?”

“Saya terpaksa memecatmu dan memberimu pesangon.”

“Kenapa?”

“Karena aku tahu rencana busukmu selanjutnya. Kau dan ayah temanku itu kan punya dua rencana sekaligus. Temanku akan dibuang ke Jakarta untuk menjadi komisaris perusahaan baru ayahnya. Dan aku akan diangkat jadi komisaris. Lantas, kau yang diplot jadi direktur baru kantor ini.”

Teman itu pucat. Tanyanya, “Kau kok tahu?”

Arsip Cerpen di Indonesia