Bersama Angin

“Sebutkan nama dan tanggal kepergiannya.”

“Namanya Bara bin Kliman. Pergi di Sabtu pagi, tanggal pertama bulan pertama tahun ini.”

“Berarti di shaf mata juling, paling belakang.”

Namun Maya keburu penasaran dengan kilauannya. Dari mana tahu hanya dengan nama dan tanggal kepergian? Namun Cahaya hanyalah kelebatan. Tak mempan diraba dijamah. Menghilang secepat kedatangannya. Maya tak ambil peduli segera terbang lagi mencari shaf mata juling paling belakang. Ternyata, beshaf-shaf pula. Maya bimbang dan bingung mencari bagian shaf Adam dan Hawa. Tentulah suamiku ada di shaf para Adam, yang jutaan jua adanya. Lamat-lamat Maya mendengar suara yang begitu akrab di telinga.

“Baiklah aku setuju, Nek. Berapa harganya?” Mirip sekali dengan suara Bara.

“Ini jampi-jampi mahal, sihir mahabbah pake 2 jin 500 tahun usia. Jadi tahu sendirilah kau hargai berapa,” jawab Nenek diplomatis.

“Satu juta? Dua juta?” Bara menerka tak sabar.

“Goblok! Lima juta sudah murah, Thole? Atau aku tarik lagi biar kebencian pengantinmu kian menjadi jadi?”

“Eh iprit eh jangan eh maksudku…jangan ditarik lagi, Nek. Baiklah aku setuju segitu, asal istriku jadi keblinger denganku.”

Tak salah. Jelas itu suara Bara, suara suaminya yang seminggu lalu pergi meninggalkan dunia. Pemutaran film yang sempurna. Persis, klop dengan kehidupan nyata. Tak ada sekuen yang terpotong. Sekuen demi sekuen melaju, berputar ke masa lalu. Bara tampak membisu seribu bahasa. Kian juling matanya seakan menatap kehidupan sejatinya. Api berkobar menjilati raga.

Maya terperangah. Berarti benar dugaanku. Bara telah menyihir sampai aku keblinger sudi menjadi istri ke empatnya. Jadi, wedhang jahe yang kuminum di malam itu, mengandung 2 jin tua bangka yang bakal menguasai dua syaraf otakku? Mengapa pula aku mau menikah kalau bukan karena sihir?

Maya tersungkur bersimbah tanya yang nyata.

“Semua sudah berjalan sesuai rencana, Nek. Terima kasih telah membantu kepalsuanku…!”

“Apa sekarang masih diperlukan keberadaan 2 jinku itu? Kau harus membayar lagi dua kali lipat kalau ingin memilikinya.”

Arsip Cerpen di Indonesia