Bersama Angin

“Gile lu, Lampir! Tua bangka suka morotin orang!” Bara mulai meradang.

“Hey kamu beruk hitam! Mau bayar atau kubikin impoten barangmu, haram jadah!” wajah Nenek kian mengerikan.

“Eh iprit eh lampir iya nek aku bayar, tapi separo ya…lagi bokek nih…! Lagian aku tak butuh lagi sama itu 2 ipritmu. Kau ambil saja lagi pasukanmu. Aku tak butuh!”

“Benar sudah tak butuh? Dasar bedhes kurap mimpi meluk mbulan!”

Nenek sihir hilang dari layar. Maya pun siuman dan terpikir untuk meminta ganti rugi seluruh kesehatan hidupnya yang telah dirampok Bara selama ini. Wajahku cantik dan otakku bersinar. Bagaimana mungkin bisa masuk penjara laki-laki bermata juling dan aniaya.

“Apa yang kuderita ini, dokter? Sakit apa aku ini? Mengapa begini rupa ow…! Tak tahan aku, dok! Tolong aku…!” keluh Bara menderita.

Dokter memeriksa pantatnya, ada buntut yang tumbuh mirip ekor monyet. Membuat pakaian jenis apapun hatta sarung, memperlihatkan tonjolan yang meresahkan sekaligus menyakitkan.

Siang malam Bara kesakitan. Hari-hari menyiksa. Seakan tiba musim badai. Keempat istrinya mulai enggan dan tak peduli pada kelelakiannya. Kelojotan, sendirian meregang nyawa.

Maya bergidik ngeri dan jijik. Menyaksikan mata juling si buruk rupa, megap-megap di layar dunia. Sekuen demi sekuen terus berjalan, makin pelan dan terseok pikun seperti kaki asam urat menahun. Lelaki macam itukah yang menggerogoti hidupku sampai tulang dan kulit tersisa di tubuhku.

Kini, Maya digulung malu. Apalagi jika ada tetangga yang tahu, bahwa Bara memiliki ekor. Deraan bertubi menghantui para anak dan istri. Anak paling besar dari istri pertamanya tiba-tiba bergerak ringan, membuang Bara ke selokan di tengah malam dan hujan. Anggap saja ini duplikat dari kejahatannya, bisik anak paling besar.

Malam itu, hujan deras mengguyur kampung, jalan-jalan dan gang. Air coklat muluber dari selokan. Dan Bara ditemukan dalam kisah sang ajal. Tubuhnya lebih legam dari arang.

Dalam kisah orang-orang kampung itu, anjing-anjing mencakari jasadnya dan beritanya menyebar laiknya bau bangkai yang tercium hingga jauh. Terbawa angin koran, radio dan televisi. Bahkan juga media sosial.

Arsip Cerpen di Indonesia