Oleh Herdita Dwi R (Kompas, 10 Juni 2018)

Ramadhan tahun ini Pita harus melewatkannya di tempat pengungsian di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Saat ini, aktivitas Gunung Merapi meningkat menjadi waspada.
Tidak ada teman-teman Pita yang ikut mengungsi di sana. Teman yang rumahnya dekat dengan Pita memilih tinggal di rumah familinya di lain kota. Pita jadi merasa sendirian.
“Kamu kenapa diam di sini terus, Nak?” tanya Ibu.
“Pita tak ada teman, Bu,” jawabnya sedih.
“Lho, itu banyak anak-anak yang sedang bermain di lapangan,” kata Ibu kemudian.
“Tidak ada yang Pita kenal, Bu.”
“Kalau begitu, coba kenalan saja,” saran Ibu.
Baca juga: Tak Kenal Maka Tak Sayang – Oleh Herdita Dwi R (Kompas, 10 Juni 2018)
Pita ragu-ragu menuruti perkataan ibunya. Dia malu untuk berkenalan.
“Apa mau Ibu antar?” tanya Ibu lagi.
“Tidak usah, Bu. Biar Pita kenalan sendiri.”
Pita lalu berjalan ke arah lapangan. Sesampainya di sana, ia bingung harus memulai kenalan dengan anak-anak yang mana. Tiba-tiba, pundaknya ditepuk dari belakang. Pita menoleh dan melihat dua anak perempuan.
“Halo, aku Dwi,” sapa salah seorang dari mereka, “Dan ini Mika.” Ia menunjuk teman di sebelahnya.
Baca juga: Satu Nusa Satu Bangsa – Oleh Tyas KW (Kompas, 08 Juli 2018)
“Namaku Pita,” balas Pita sambil menyalami keduanya.
“Dari kemarin kami melihat kamu main sendirian. Kami tadinya mau mengajak bermain, tapi kamu di belakang ibumu terus,” ungkap Dwi terus terang.
“Itu karena aku baru datang ke sini dan belum kenal siapa-siapa. Jadi pilih di dekat ibu saja,” jelas Pita malu-malu.
“Oh, begitu.” Kali ini Mika yang berbicara, “Sekarang karena sudah kenal, kita main bersama, yuk! Nanti kami kenalkan juga dengan teman-teman yang lain.”