“Bagaimana Kak, kapan mau dipertemukan dengan Abang itu?” tanya Imah, tetangganya. Laki-laki yang ingin dijodohkan adalah duda tanpa anak. Imah sudah memotret Dinar dan menunjukkan fotonya pada laki-laki itu. Semua kelebihan Dinar diceritakan Imah padanya. Laki-laki tersebut setuju.
“Eh, Imah serius rupanya?” Dinar balik tanya.
“Ya ampun, Kak, jadi kenapa aku minta foto Kakak? Kakak seriusnya, mau menikah?”
Dinar terpaku hanya memandangi hape dengan layar yang menunjukkan foto laki-laki yang bernama Madi itu. Lumayan menurutnya.
“Tapi… pekerjaannya apa, Mah?” Dinar lupa menanyakannya kemarin. Dinar pikir Imah hanya bercanda ingin menjodohkannya.
“Oh iya, Imah lupa bilang. Pekerjaannya satpam, tapi sudah punya rumah dan ladang, Kak. Orangnya juga taat pada agama dan baik. Dia ditinggal mati istrinya karena kanker rahim. Lima tahun menikah mereka tidak punya anak.”
“Rumahnya besar, ya?”
“Enggak, Kak. Cuma dua kamar, tapi beton. Cocoklah untuk kalian kalau jodoh, nanti. Bawa Mamak Kakak juga kesana.”
“Tamatan sekolah apa?”
“SMP, Kak. Pikirannya cukup dewasa dan bijaksana.”
Dinar terdiam agak lama.
“Kenapa, Kak?” tanya Imah.
“Nggak usah sajalah, Mah. Bukan jodoh Kakak. Kakak kan sarjana, kalau bisa suami Kakak S2 di atas Kakak. Kakak juga pingin dapat laki-laki kaya, yang rumahnya besar bertingkat,” jawab Dinar diiringi tawa namun Imah tahu dia mengatakannya dengan serius.
“Oooh…” Sungguh Imah tidak habis pikir dengan jawaban Dinar. Dia melamun menatap perempuan dengan wajah yang biasa saja di depannya.
“Kupikir Kakak mengutamakan taat agama,” lanjutnya. “Dan menurutku Bang Madi cocok untuk Kakak.”
“Iya, memang agama juga penting. Dunia yang dijalani saat ini kan lebih penting.” Dinar terkekeh nggak jelas.
“Apalagi Mamak Kakak juga matrealistis, Mah.”
Imah terdiam dengan pikirannya. Dia sama sekali tidak menyangka Dinar perempuan yang menginginkan kekayaan. Sejak itu perlahan satu demi satu tetangga menjauhinya, mengetahui sifat jeleknya sedikit demi sedikit.
***