“Kenapa? Banyak pikiran Ibu ya? Pergi sajalah Ibu ke rumah anak Ibu yang lain kalau banyak pikiran di sini,” kata Dinar. Titin yang membukakan pintu pagar untuk mobil suaminya hanya melempar tatapan tajam. Inginnya dia melemparkan batu besar di depannya saat itu ke arah Dinar tapi kesabarannya lebih menang.
Besok-besok, Titin tidak membiarkan ibunya bertandang ke rumah Dinar lagi. Asal ibunya keluar, melihat ke samping, sementara Dinar di rumah, Titin membujuk ibunya masuk.
***
Beberapa bulan berlalu. Terdengar kabar Dinar akan pindah ke rumah besarnya. Adiknya telah pindah keluar kota. Rumahnya sudah kosong karena barang-barang habis dijuali adiknya. Uang listriknya menunggak, adiknya meninggalkan hutang sana-sini.
Dinar tidak ada pilihan lain selain kembali ke rumahnya dan menghadapi orang-orang penagih hutang adiknya. Rumah yang ditempatinya pun sudah habis masa, karena menyewa untuk setengah tahun. Uangnya tak ada lagi untuk melanjutkan karena menutupi tagihan listrik rumah yang ditempati adiknya.
Saat pindah, Dinar pamit ke rumah Titin. Dinar menyalami Titin tanpa kata, kemudian menyalami ibunya.
“Kenapa Ibu tak ke rumah awak? Dimarahi Titin ya?” kata Dinar. Inginnya Titin mengambil pisau di dapur untuk menggorok leher Dinar, tapi lagi-lagi si sabar yang menang. Dinar pun pergi memandangi rumah dan keluarga Titin.
“Kenapa aku tak mempunyai kehidupan macam itu…?” bisiknya di hati.
Kuala Simpang, 17 Maret 2018