Gadis Tua dan Musuknya

“Ya sudahlah, situ saja. Jangan kemana-mana ya, Mak.”

“Mau ke mana pula aku?!” jawab ibunya. Entah kenapa beberapa hari ini ibunya sering sentiment padanya. Titin pun memilih diam, tak menjawab lagi.

“Aih Bu… hati-hati jalannya. Awas jatuh. Kasihannya… rindu Ibu sama awak ya? Suntuk di rumah saja? Tak ada yang mengajak Ibu mengobrol?” Terdengar suara Dinar yang berada di rumahnya menyambut Ibu Titin seolah ibu tersebut teraniaya oleh anaknya.

***

Suatu hari, datang seorang laki-laki ke rumah Dinar setelah menumpang tanya pada tetangga. Ternyata dia adalah adik Dinar. Laki-laki berkulit coklat itu berlutut di kaki ibunya. Meminta maaf, memohon agar ibunya mau pulang kembali ke rumahnya. Ibunya hanya diam dengan mata berkaca-kaca memegang kepala anaknya. Sekonyong-konyong muncul kakaknya melihat adegan tersebut.

“Tak usah dimaafkan, Mak. Nanti diulangnya lagi!” kata Dinar pada mamaknya. Ibunya hanya diam tidak menjawab apa pun. “Pulanglah kau! Tak usah ganggu Mamak lagi! Urus saja anak istrimu,” lanjutnya pada adiknya.

Adiknya tak menjawabnya. “Pulang awak ya, Mak.” Diciumnya tangan mamaknya lalu keluar menuju sepeda motor matik yang masih mengkilap. Ditatapnya kakaknya dengan tajam sebelum pergi. “Begitulah sikapmu! Di sini pun tak ada tetangga yang menyukaimu.”

“Biarin!” jawab Dinar tak peduli. “Kau urus saja dirimu sendiri, kerja kau untuk anak binikmu. Jangan taunya menghabiskan harta orangtua saja! Tak ada gunanya Mamak sekolahkan kau tinggi-tinggi.” Sebelum selasai ucapannya, adiknya sudah hambus pergi.

***

Dinar melewati rumah Titin pagi hari. Dilihatnya Ibu Titin sedang sarapan pakai tempe dan sawi rebus. Kemarin tekanan darahnya naik jadi Titin menjaga makan ibunya.

“Sarapan, Bu?” sapa Dinar.

“Iya, makan?” jawab Ibu Titin basa-basi.

“Iya. Pakai apa Ibu makan?” Diliriknya lauk di piring si Ibu. “Biasanya beli sarapan nasi gurih.” Belum dijawab Ibu Titin, Dinar sudah bicara lagi. “Pantaslah Ibu sering beli sarapan ya, itulah lauk dikasih anak Ibu.”

Titin di dapur diam hanya mendengarkan. Dalam hatinya merutuk. Lebih dari nasi gurih pun sanggup dia beli untuk ibunya. Hanya karena ibunya darah tinggi saja, tak bisa makan nasi gurih. Kemarin pun Titin hanya diam saat Dinar menyapa ibunya saat dia dan keluarganya pulang membawa ibunya dari rumah sakit. Ibunya menjawab dari mana dan mengatakan darah tingginya kumat.

Arsip Cerpen di Indonesia