Kemelun Asap

Ia melihat orang-orang di sisi kanannya itu juga menatapnya. Ia rikuh. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam kebingungan itu, ia mendapati dirinya tiba-tiba telah berlari.

Ia baru berlari sejauh empat puluh meter ketika kaki kanannya terantuk sesuatu. Kaki kirinya sendiri. Ia terjerembap dengan wajah lebih dulu membentur paving. Ia berupaya bangkit. Dan, pada saat itulah, kerumunan orang-orang marah telah sampai di tempatnya jatuh. Mengerubungnya. Lantas seseorang menendangnya.

“Ini copetnya!”

***

“Ibu masak apa?” bocah laki-laki berusia lima tahun itu bertanya. Ia masih mengucek-ngucek matanya. Rambutnya acak-acakan.

“Ketupat, Nak. Besok Lebaran. Nanti malam bapakmu pulang.”

Bocah itu mendekat, lantas mendusel ke pangkuannya. “Kau masih lemas?”

Bocah itu menggeleng pelan.

***

Bulu matanya lengket oleh campuran antara bensin dan darah. Ada semacam tirai yang menghalangi pandangannya. Namun, pandangannya hanya kabur, bukan buta sepenuhnya. Di balik tirai itu, melayang-layang di angkasa, tampak sesuatu yang berkilau.

Bukan kilauan yang dekat dengan warna putih, melainkan hitam. Bagaimana bisa warna hitam yang sepekat itu berkilau? Lagi pula, itu kilauan yang sungguh menyilaukan. Hampir sama mengilaukannya dengan matahari pagi. Bukan kilauan biasa.

Sesuatu itu kian mendekat ke arahnya. Ia berupaya berteriak meminta tolong. Namun, suaranya sudah habis. Yang meluncur dari tenggorokannya hanya desisan pendek. Sesuatu itu kian mendekat. Semakin dekat.

Langit belum sepenuhnya gelap. Dan sesuatu yang kegelapannya melebihi kekelaman malam yang paling kelam itu, sesuatu yang kekelamannya menyilaukan itu, tampak semakin jelas lagi; merentangkan sepasang sayap yang terlihat kokoh dan perkasa.

“Ia akan menolongku dari kesalahpahaman ini,” yakinnya.

Ia mengira sesuatu itu akan mengusir orang-orang marah tersebut. Semakin dekat sesuatu itu, semakin jelaslah bahwa sesuatu itu memiliki ukuran yang luar biasa besar. Sebegitu besar hingga rasa-rasanya ia sanggup menutupi seantero bumi dengan bentangan sayapnya.

“Tolong aku,” ia kembali mendesis.

“Bakar! Bakar!” ia mendengar teriakan.

“Nyalakan! Nyalakan!”

***

Arsip Cerpen di Indonesia