“Bapak sudah tidak jadi banci, kan Bu?” bocah kecil itu mengangkat kepalanya.
Ibunya tersenyum kecil. “Bapakmu tidak pernah menjadi banci.”
“Tapi orang-orang bilang…”
“Sudah berkali-kali Ibu bilang, bapakmu bukan banci. Bapakmu wedhokan, ia sekadar memerankan tokoh perempuan dalam ludruk.”
“Tapi, kata orang-orang, bapak sekarang tidak main ludruk. Bapak jadi banci di Surabaya.”
“Tidak, Nak. Bapakmu ngamen ludruk di kota. Dia main ludruk garingan. Sendirian. Dan, dia paling ahli jadi Simboknya Sarip Tambak Oso.”
“Bapak banci, ya?”
“Bukan, Nak. Nanti kau akan mengerti. Sudah, kau makan dulu ya… biar tipesnya tidak kambuh. Besok kan Lebaran. Ayo, Ibu juga mau buka puasa. Sudah Maghrib.”
***
Ia tidak mengerti kenapa kerumunan orang yang marah itu seperti tidak terusik dengan kehadiran sesuatu yang begitu besar dan berwarna hitam kelam dan menyilaukan tersebut. Mereka terus menghajarnya, melempari tubuhnya dengan batu dan potongan paving. Menendang dan memukul. Menjambak dan meludahi. Sementara seseorang, samar-samar, ia lihat menyalakan korek gas.
Ia juga tak tahu apa yang salah. Terminal ramai seperti biasanya pada musim mudik seperti sekarang. Ia menunggu bis yang masih menyisakan tempat duduk yang akan membawanya menemui istri dan anak semata wa yangnya. Dan tiba-tiba, dengan cepat, ia telah berada dalam situasi ini.
“Sudah tiba waktunya,” ia mendengar suara. Bukan teriakan. Bukan dengan nada kemarahan. Suara itu lembut dan lebih seperti bisikan. Berat dan dalam. Dan bergema begitu saja di liang kupingnya.
“Apa maksudnya?” ia berdesis.
Sesuatu berwarna hitam pekat dan berkilau di depannya telah begitu dekat, menembus kerumunan orang-orang, lantas merangkulnya, meling kupkan sepasang sayap berukuran kolosal itu ke tubuhnya. Ia merasakan tubuhnya yang telah hancur kian lemah. Semakin payah.
***