Tentu saja ia tahu. Ia tahu keberadaan orkes dangdut koplo benar-benar menghancurkan bisnis ludruk. Itulah sebabnya, pada bulan puasa kali ini, suaminya pamit untuk ngamen ludruk garingan, keliling ke mana-mana. Bermain sendirian. Semacam monolog. Persis seperti yang bertahun-tahun sebelumnya dikerjakan oleh seorang legenda ludruk bernama Cak Markeso di Surabaya.
“Aku akan pulang pada malam takbiran. Selambat-lambatnya, pagi-pagi pada hari Lebaran, tepat sebelum shalat id,” pamit suaminya sebulan yang lalu.
***
“Inikah api neraka jahanam itu?” pikirnya. Sesuatu berwarna hitam itu telah sempurna memeluk tubuhnya. Tubuhnya terasa panas. Sangat panas. Ia mendengar orang-orang yang marah masih berteriak-teriak.
“Mampus kau! Mampus!”
Kemelun asap bergulung-gulung ke langit tinggi. Terus ke atas. Terus.
***
“Kau mau kemana? Buburmu belum habis,” perempuan itu meneriaki anaknya yang lari ke dapur. Ia menyusul si anak. Anaknya berdiri kaku di depan tungku. “Ayo makan du…” ia gagal meneruskan kalimatnya.
Lidahnya terasa kelu begitu mendapati bagaimana dari kemelun asap yang keluar dari lubang tatakan belakang tungku, kepala suaminya muncul. Tersenyum manis. Perempuan itu mengucek-ngucek mata.
“Ibu, Ibu, itu bapak Bu,” anaknya menarik-narik ujung dasternya.
Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.