Mudik ini, Ah, Jangan Terulang

Ternyata suaraku yang lembut bukan meluruhkan hati istriku. Ia tetap berkukuh tahun ini mudik ke kampung kelahirannya. Alasan dia, ibu sudah uzur dan berbeda dengan ibuku yang mungkin baru 70 tahun. Selain itu, ia sudah kadung berjanji dengan teman-teman semasa SMA di kotanya; ingin reuni satu gank-nya. Ia pernah bercerita, sewaktu di SMA punya kelompok belajar sekitar 10 orang: 7 perempuan dan 3 lelaki. Semuanya sudah berkeluarga dan punya anak.

“Bagaimana gitu?” kata dia suatu kesempatan.

Aku tak menjawab. Dalam hati aku berharap ia akan membatalkan janji reuni bersama teman-temannya. Namun, kenyataannya ia berkeras mengajak kami berlebaran di kampungnya. Sementara aku dan Adel sudah sepakat, Lebaran kali ini mau ke pantai. Berkecipak dengan ombak dan asinnya laut.

Berkali-kali aku memintanya untuk kembali pada kesepakatan. Artinya, berganti-ganti mudik ke kampung siapa, dan satu kali tidak ke mana-mana. Apalagi, kalau merujuk pada tempat kelahiran Adel, ya di kota S ini yang kini menjadi tempat tinggal kami.

“Adel juga harus mendapat hak, itu namanya adil…” ucapku suatu malam sebelum kami tidur agar tak kesiangan bersahur. Istriku tak menanggapi. Ia asyik dengan telepon pintarnya. Mungkin ia sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya melalui WhatsApp sehingga suaraku masuk kuping kanan dan ke luar kuping kirinya. Atau ia sengaja tak mau lagi berdiskusi soal mudik yang sudah diputuskannya? Entahlah.

***

Istriku mengancam tetap bermudik ke kampungnya walaupun aku memilih tidak pergi. Ia sudah membujuk Adel saat aku ke kantor. Kini aku kehilangan dukungan. Seperti calon legislatif atau calon kepala daerah yang ditinggal konstituen. Meski aku yakin, Adel berat meninggalkan diriku sendiri di rumah.

Ia mengkhawatirkan bagaimana aku makan saat Lebaran? Siapa yang menyiapkan ketupat dan sayur daging? Soalnya aku sudah terbiasa sejak remaja pada hari Lebaran harus disediakan ketupat dan lauk-pauknya. Dan kekhawatiran lainnya. Aku tersenyum.

Arsip Cerpen di Indonesia