“Alangkah mudahnya kalau mau makan ketupat Adel? Abi bisa ke rumah kawan, dapat juga kan ketupatnya…” ucapku semangat demi anakku yang khawatir padaku.
Sengaja aku besarkan volume suaraku supaya didengar istriku. Namun, ia tetap bergeming. Matanya tertuju ke layar telepon genggamnya. Kadang kulihat ia tersenyum-senyum.
“Bunda, kalau kita jadi pergi, kayak mana Abi? Kasihan sendirian di rumah…” Adel mengusik bundanya. Istriku hanya menatapnya sesaat.
“Bunda, dengar gak sih aku ngomong?”
“Ya sudah kalau Abi tak mau mudik. Adel mau ikut bunda atau Abi. Titik.”
Suasana mulai gerah. Sebentar lagi berbuka puasa. Agar tak makin riuh, aku keluar mencari takjil di kedaikedai yang tumbuh bak jamur di saat Ramadan. Aku pulang kurang dari 5 menit berbuka puasa. Suasana sudah mulai tenang.
Seusai berbuka dan salat magrib, istriku kembali mengajukan pertanyaan padaku. Apakah aku akan mudik ke kampungnya atau memilih tinggal di rumah. Wajahnya mulai tak suka. Aku diam.
“Jawab yang tegas dong!” katanya.
“Saat ini aku belum ada jawaban. Belum punya keputusan. Masih pada kesepakatan kita dulu…”
“Sesekali bolehlah kita abaikan kesepakatan. Tak harus pada keputusan yang kita sepakati. Peraturan saja bisa diubah-ubah, bergantung pada situasi dan kondisi….” Balas istriku.
Ah, aku harus bilang apa lagi?
***
Aku pun ikut mudik ke kampung istriku. Ini setelah kupertimbangkan amat matang. Membayangkan arus mudik dan arus balik yang padat, aku tak tega melepas istriku dan Adel menuju kampung ibu dengan mengendarai mobil sendiri. Apalagi jalan lintas Sumatera ke kampung istriku selain sepi, juga melewati perkebunan karet, hutan, dan menyeramkan.
Pembegal dikenal sangat kejam. Pengendara mobil dengan modus lempar telur yang sudah diberi ramuan lain ke kaca depan. Apabila kita aktifkan wiper maka semakin menutup pandangan. Sebaiknya dibiarkan sampai mendapati lokasi aman, misalnya SPBU, kantor polisi, atau perkampungan yang warganya masih terlihat di luar rumah.