Mudik ini, Ah, Jangan Terulang

Namun, bagaimana jika istriku ternyata grogi? Sehingga ia justru menggerakkan wiper? Tak terbayangkan apa jadinya anak dan istriku, terutama keselamatan jiwanya? Para pembegal jalanan yang sadis itu bisa saja mengoyak-ngoyak tubuh istri dan anakku. Membayangkan itu aku ngeri, dan tak mungkin tega membiarkan mereka pulang tanpa kutemani.

“Oke, Abi ikut mudik. Tetapi, setelah ini kita kembali pada kesepakatan awal. Janji?”

“Oke. Plis sekali ini deh. Lagian ibu sudah uzur, kasihan kalau tak dijenguk. Mungkin saja tahun depan kita tak lagi ke sana, karena ibu…”

“Sstt..” sergahku. “Jangan mendahului takdir Allah. Kita doakan ibu tetap sehat dan lama bersama kita…” lanjutku.

“Amin…” jawab istriku.

“Amin…” sambung Adel.

Tiga hari menjelang Lebaran, kami menuju kampung kelahiran istriku. Ibu, kabarnya, sangat senang menyambut kedatangan kami. Apalagi Adel yang kini sudah berusia 17 tahun persis pada 16 Juni. Neneknya berjanji mau merayakan ulang tahun Adel. Kata istriku lagi, ibu sudah memesan tarup yang akan dipasang pada sehari sebelum Lebaran.

Aku maklum. Ibu melakukan itu karena Adel adalah cucu perempuan satu-satunya dan tertua dari lainnya. Sejak Adel kecil, neneknya memang sangat sayang melebihi dari cucu-cucunya yang lain. Nah, bersamaan merayakan ulang tahun Adel, istriku mengundang kawan-kawannya semasa SMA untuk temu kangen. Istriku menyebut: reuni.

Kami baru saja keluar dari kapal di Pelabuhan Bakauheni. Sekitar 7 jam lagi baru sampai rumah ibu. Kini sudah pukul 02,00 dini hari. Setiba di Kalianda, ibu kota Kabupaten Lampung Selatan, kami istirahat sejenak di rumah makan yang buka 24 jam. Kami sahur di sana.

Di rumah makan Minang ini begitu ramai. Sulit memarkirkan kendaraan, biar pun sudah dibantu juru parkir di situ. Pengunjung didominasi kendaraan pribadi. Mereka sama-sama ingin mudik. Ada yang ke Lampung, Sumatera Selatan, hingga provinsi yang ada di Pulau Sumatera ini.

Arsip Cerpen di Indonesia