”Dek, lihatlah hampir seluruh orang yang masuk menanyakan kehadiran Pak Ali. Dia baik! Sederhana. Apa adanya. Ketika melayani pasien ada saat serius dan ada pula saat bergurau. Banyak orang yang suka. Saya melihat pelayanannya tulus dari hati, dan jiwanya bersih,” melanjutkan keterangannya.
Sejenak kemudian bapak itu terhenti berbicara.
“Itu dia Pak Ali!” Dia melihat ke pintu masuk, saya pun mengikuti pandangannya.
Pak Ali bergegas masuk, dengan penampilan rambut pendek, dihiasi jenggot tipis. Dia gagah? Tidak juga. Mungkin sederhanalah. Masuk dengan membaca Assalamu ‘alaikum, dan menyapa kami yang sedang antrean. Dengan tersenyum dia lewati barisan antrean kami. Manis senyumnya, terlihat gigi yang tersusun rapi dan putih. Kulit hitam lembut memakai celana biru, dan kemeja panjang lengan biru muda ditutupi oleh sweter abu-abu. Memakai sandal warna kuning tua dengan merek Gheofss. Sederhana! Pada dokter seukuran dia.
“Pantas saja, banyak orang yang suka sama Pak Ali, jika senyumnya semanis itu.” Senyum sempurna. Sempurna tulusnya, sempurna dari hati, sempurna melayani, dan sempurna menyapanya. Langka senyuman seperti itu tersungging dari bibir para dokter. Senyumannya tidak dingin, tidak kamuflase, tidak menggoda. Saya bergumam dalam hati.
“Apalagi senyum itu diberikan ketika dia melayani pasien, melihat senyumnya orang akan senang, keramahan dan senyumnya itu sudah setengah sembuh. Setengah obat. Sebelum obat diberikan.
Setelah menunjukkan sosok Dokter Ali. Lalu Dokternya masuk ruangan. Bapak yang di samping melanjutkan pembicaraannya.
“Banyak orang yang berobat di sini, lebih lima Kecamatan. Bahkan bapak-bapak dan ibu-ibu, kakek dan nenek yang pernah berobat bersamanya di Kamang tempat awal dia Dinas datang kemari mencari dan minta berobat sama Pak Ali, diantar anak maupun cucunya, dan diantar adik atau kakaknya.
Saya suka dengan cara Dokter Ali melayani pasien. Pernah suatu ketika saya datang berobat ke sini. Dokter Ali tidak ada, dia Dinas luar. Namun berobat saya lanjutkan, karena sudah tiga hari terserang demam flu.
Saya ditangani oleh salah seorang dokter, juga di ruangan pak Ali ini. Saya diperiksa tanpa disenter mata, tidak di tempelkan… apa namanya alat yang ditempel dada dan dipasang ditelinga dokter?” Saya hanya diam mendengarkan.
Dan dia lanjut berbicara: “Tidak disuruh berbaring lihat mata dan alat yang ditempel di punggung. Hanya cek tensi. Kemudian saya diberi resep. Setibanya di rumah, obat diminum sesuai dosis yang dianjurkan. Setengah jam kemudian, kepala bagian belakang sakit, kemudian ke seluruh kepala. Setiap kali saya minum obat waktu itu, kepala saya sakit.