Kemudian Dokter Ali berdiri, menuju tempat pembaringan seorang nenek yang sebelumnya disuruh untuk berbaring.
“Kenapa, Nek?” tanya Dokter Ali.
“Kenapa?! Ya berobat lah!” Jawab nenek singkat lalu tersenyum, dengan memperlihatkan keakraban.
“Oo iya.”
“Giginya ke mana? Lompat? Terlalu kuat kali batuknya ni, Nek!”
“Bukan! Karena menggertak Anjing. Anjing lari, gigi saya jatuh, saya nggak tau anjing itu lari karena melihat gigi saya yang jatuh atau karena gertakan saya. Ha ha ha,” nenek ketawa lebar membalas gurauan Dokter Ali, diiringi seisi ruangan.
Dokter memasang alat stetoskop ke telinga dan mengusapkan ke dada nenek, dan berkata. “Paru-paru normal, buka mulutnya, Nek!” dokter Ali menyenter mata nenek dengan Penlight untuk memperhatikan reflex mata ada atau tidak amandel dalam tenggorokan. Menyenter rongga mulut nenek. Keluhan lain si nenek: perut bagian kanan bawah katanya sakit. Nenek disuruh lipat bagian lutut, ditanyakan sakit atau tidak jika dibuat seperti itu. Nenek menjawab dengan mengatakan tidak. Kemudian disuruh duduk, ditempelkan kembali stetoskop di bagian punggung, dan disuruh turun dari tempat tidur.
Sekarang giliran saya untuk menaiki ranjang pasien itu. Dia melakukan seperti apa yang dilakukan pada nenek tersebut, menyenter mata, menyenter mulut, mencek paru-paru, mencek bagian punggung. Dia berkata ada gangguan saluran pernafasan. Saya bertanya: “Bahaya atau tidak?” “Nggak apa-apa. Cuma gangguan saja.” Saya sempatkan bertanya dia berasal dari daerah mana, apa nama sakit saluran pernafasan. Jika saya ada gangguan saluran pernafasan, tapi kenapa saya tidak batuk, dan lain-lain pertanyaan saya. Semua dia jawab dengan baik, tanpa ada cemeeh, merasa tidak perlu dijawab, dan tidak terlihat diwajahnya bentuk kebosanan.
Setelah saya duduk di tempat pemeriksaan, dia melayani pasien lain. Mohon maaf terlambat kemaren. Ada pasien lain, dia katakan: “Maaf ya, di tinggal kemaren.” Kata minta ma’af! Sungguh kata mulia, walaupun tidak akan berubah dengan kalimat maaf, namun sungguh membuat seorang derajatnya tambah tinggi. Sungguh langka pejabat mengeluarkan kata-kata ma’af bila bersalah. Yang banyak mencari dalih, tidak mau disalahkan. Bahkan kata-kata ini kata-kata sulit bagi orang yang arogan. Minta maaf juga kata-kata rendahan bagi hati yang angkuh.
Ada pula seorang ibu masuk bertanya tentang apa kegunaan obat yang dia terima dari Apotik. Tanpa pengecualian dia layani, padahal sebaiknya dia tanyakan di Apotik, dan memang tanggung jawab mereka, tapi malah Dokter Ali yang ditanya.
“Pelayanan dokter Ali tidak ada yang dilebih-lebihkan, tidak ada yang ditutupi, merespon setiap pertanyaan pasien, berjalan tanpa ada rekayasa. Sederhana saja. Dengan sepenuh hati. Kalau begini cara Dokter Ali, wajar saja banyak orang yang suka.” Saya juga suka dengan pelayananya. Semenjak itu, jika saya memerlukan tindakan pengobatan lanjut, saya mencari dokter Ali. Seperti pertanyaan orang lain, “Dokter Alinya ada bu?” Bila hari ini dia tidak datang, saya menantinya besok hari. (*)