“Sudah lama menunggu?” Hawa mengulurkan tangan.
“Aaah, tidak!” Hamid menyambutnya, dengan perasaan sangat mustahil. Ia menjabat tangannya erat. Wah! Ia belum pernah mendapat sentuhan sehangat itu. Detak jantungnya pun bukan lagi sekadar lazimnya sebagaimana manusia merasakannya. Sungguh ini tidak kuasa dibayangkan. Pada diri Hamid kembali terbesit, ia kala itu menginginkan suatu yang terjadi pada Adam, entah apa itu tepatnya, ia ingin merasakan kenikmatan apa yang Adam rasakan kala itu, hingga sekejap kemudian, Hamid hilang ingatan, ia tidak sadarkan diri, apa yang kebetulan ia remas di tangannya, benarkah ini yang menurut penduduk bumi adalah buah khuldi? Tapi sekali lagi, rasa dan kenikmatannya tidak cukup dibayangkan sebagaimana kenikmatannya di muka bumi.
“Apa kau menginginkan ini?” Bisik Hawa dengan sangat manja.
“Bagaimana denganmu?”
Hamid membalasnya tidak kalah manja. Karena menurut ceritanya, pada kota surga itu, tidak dapat ditemukan kecewa, iri hati, dan sebagainya. Sebentar Hamid berpikir, bukankah dulu Adam setelah memakan buah ini, tiba-tiba dilempar ke muka bumi? Apa ini juga akan terjadi pada diri Hamid? Pikirnya.
“Leh, ayolah… dicicpi saja, kenapa bengong?” bujuk Hawa.
“Hmmm, iya-iya!” Ada senyum yang pecah di antara mereka. Tiba-tiba Hamid terjaga. Astaghfirullaha al-adzim… ia membelalak. “Ada di mana aku ini?” Ia memukuli tubuhnya, ia mampu menyentuh kulitnya. Ia masih saja linglung. “Hahh, tidak! Di mana aku ini?”
“Hmmm, di mana ya, kasih tahu enggak ya?” Hawa sambil lalu menutup kedua mata Hamid.
“Hahaha…” Gelakak mereka semakin menjadi.
Hamid mencoba ingin membuang tangan Hawa, yang sedang menutup kedua matanya. Tapi raib. Berulang kali ia berusaha, tetap saja, tidak kuasa. Ia kembali berandai, apa mungkin aku sudah di dunia?