“Huaa…” Hawa melepas tangannya. “Iya, betul, kita sudah di dunia.” Hamid lagi-lagi mencoba berandai, tidakkah aku kuasa menjelma Idris, yang bisa kembali lagi ke kota surga, hanya dengan alasan sandalnya yang tertinggal. Ia juga beradai tidakkah aku kuasa menjelma Muhammad yang bolak-balik keliling alam semesta, masih lagi ditemani seorang buraq. Tapi naif. Karena ini dunia, tempat semua kebohongan dan kemustahilan. Bagaimana pun kita tidak akan kembali merasakan keindahan itu. Dunia ini tempat semua orang menyesali penyesalan. Dan tempat semua orang meluhurkan kehancuran.
“Kuharap kau bisa kerasan di sini!” Giliran Hamid membujuk Hawa.
“Selagi bersamamu, di mana pun aku, aku akan selalu rindu tempat itu.”
“Gombal…”
***
“Ada suatu yang beda kurasakan hari ini?”
Hawa benar-benar terkejut, karena ia kali pertama saksikan sebuah cahaya menyembul dengan segala keindahannya di ufuk timur. “Apa mungkin ini yang disebut matahari?” pikirnya. Warnanya kemerahan, ada sedikit spektrum yang mengelilingi. Takjub! Maklum, Hawa belum pernah saksikan suasana semacam ini, di surga, karena sebenarnya hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan di surga. Tapi karena di sana tidak ia temukan siang dan malam, maka dari itu suasana pagi menjadi suatu yang sangat menakjubkan baginya.
“Weh! Bagaimana mungkin ia telah tiba di sana, sudah menjelma senja sebagaimana Hamid kenalkan sewaktu kali pertama aku di bumi ini. Katanya matahari itu terik, dan mengumbar kekuatan panas bagi segala sesuatu yang disinari, tapi sedari tadi aku belum merasakannya?” Sementara Hamid tersibukkan, dengan upaya menghilangkan gerah dan pengap yang mendera. Ia mengibas-ngibaskan daun pisang ke tubuhnya.
“Apa kau tidak merasakan apa yang juga kurasakan?” Sela Hamid.
“Aku juga tidak tahu, apa yang aku rasakan hari ini?” Hawa tampak dengan segala kebingungan.
“Ohya…” Hamid kembali tersadar, bahwa Hawa itu bukanlah penduduk asli bumi, wajar saja ia tidak sama sekali merasakan segala suatu yang terjadi di muka bumi ini. Tapi tidakkah, sedikit saja ia juga merasakan lapar ataupun sedikit haus. Mungkin saja tidak. Sudahlah!
“Apa kau ingin ke tempat itu?”
“Entah ya, aku di sini, tidak menginginkan apa-apa!”
“Lalu…”