Hujan seketika mengguyur, mereka berkejaran dalam riuh hujan.
“Aku sudah lama menginginkan ini,” Hawa berlari sekencang-kencangnya, dan Hamid berusaha membuntutinya.
“Abuh!” Hawa terpelanting, ia tidak kuasa seimbangkan tubuh, ia tengkurap.
Hamid masih saja berusaha menerabas hujan, ingin segera meraih Hawa. Ia terjatuh, pada tubuhnya tak sedikit pun basah. Bagi Hamid seakan ia semakin jauh untuk diregup. Entahlah, semakin dekat Hamid mengejarnya, semakin jauh pula ia dari jangkauan mata.
Sesekali Hamid kembali berandai, seumpama hujan ini akan lebih lama dan lebih lama lagi mengguyur…
Hujan sudah mulai usai, di sekitar sempurna menjelma kabut keputihan, Hamid terus saja memanggil-manggil Hawa dari kejauhan, tapi raib. Hawa sempurna hengkang menyertai kabut-kabut keputihan. (*)