Belut yang Ingin Jadi Raja

“Rakyatku yang kucinta. Tak perlu kalian was-was mendengar berita ini. Di manapun, politik tak lebih sekadar kumpulan orang-orang licik. Licin. Munafik. Meski tak semuanya busuk, tetapi politik lebih banyak busuknya daripada baiknya.”

“Maaf, Kepala Suku. Saya belum mengerti tentang politik yang dimaksud Anda. Bukankah Kunang-kunang didukung Belut, lalu mengapa Belut yang ingin menjadi raja?” celetuk semut tua.

Di kerajaan Semut, menyela penjelasan Kepala Suku adalah hal lumrah. Bagi mereka, Kepala Suku harus dipatuhi tetapi bukan berarti otoriter. Begitupula sang Kepala Suku. Dia sangat senang jikalau ada rakyatnya yang menyela di tengah penjelasan yang disampaikan. Itu lebih baik demi kebebasan berpikir yang disampaikan secara bijak. Toh, selama ini mereka tak pernah selisih pendapat sampai saling mencaci dan berkelahi. Semua diterima dengan lapang dada. Diterima dengan akal dingin kalau perbedaan itu biasa.

“Begini. Kunang-kunang yang lima tahun lalu gagal menjadi raja dan sekarang mencalonkan kembali dengan dukungan si Belut, sebenarnya Kunang-kunang itu tak lebih dari boneka politik. Justru sekarang saya merasa kasihan ke Kunang-kunang. Kalian tahu bagaimana boneka? Ya, tidak bisa apa-apa. Sekarang saya juga yakin, kalau Kunang-kunang sedang kelimpungan. Baru sadar setelah bertahun-tahun dimanfaatkan Belut untuk mendulang suara. Karena suara yang awalnya milik Kunang-kunang, justru akan beralih memilih Belut. Itulah politik. Licik.”

“Bukannya Belut itu pejuang demokrasi?” kali ini, semut muda yang mengenakan kaos berisi tulisan ‘#Tahun Depan Masih Jomblo’ bertanya.

“Betul. Dulu saya sangat kagum. Teramat. Tetapi, sejak jadi politikus sejati apalagi memakzulkan presiden Lebah, saya tidak lagi mengagumi Belut. Terserah dia mau pintar atau jenius dalam taktik politik, tapi dia salah jalan.”

Semut-semut pada mengangguk. Menyetujui ucapan pemimpin mereka. Sesekali mereka saling berbisik tentang kehebatan Belut di masa lalu.

Tetiba, seekor semut yang mengenakan tongkat berdiri. Dengan lantang dia berujar: “Itulah akibatnya kalau berbuat jahat ke seorang wali.”

Arsip Cerpen di Indonesia