Belut yang Ingin Jadi Raja

Tetapi kali ini, usulan doa yang sebagaimana biasanya digelar, tak direstui. Dengan berat hati, Kepala Suku menyampaikan kepada rakyatnya yang sengaja mogok kerja.

“Maaf, Rakyatku sekalian. Untuk urusan Belut, tak usahlah kita berdoa kepada Tuhan.”

Semua rakyat bingung. Para pengawal, keluarga bahkan penasehat juga ikut bingung.

“Kenapa? Bukankah, Kepala Suku sendiri yang mengatakan kalau kita tak bisa mengubah keadaan, cukuplah dengan doa.”

“Memang benar, Nak. Tetapi soal Belut, saya malu meminta kepada Tuhan.”

“Malu? Malu bagaimana?”

“Malu, Nak. Karena yang kita doakan juga tak punya malu. Apalagi, dia lebih buruk dari Fir’aun di zaman Musa. Kalau Fir’aun masih mending mengaku dirinya sebagai Tuhan. Tapi, kalau Belut, Nak. Dia malah mengadu domba Tuhan yang katanya Tuhan bakal malu kalau tahun depan tidak ganti raja. Memangnya, Belut itu siapa sampai-sampai mengatur kedaulatan Tuhan? Dengar, Nak. Siapapun yang mencalonkan diri menjadi raja, silakan kamu dan rakyat yang lainnya, pilih sesuai hati nurani. Saya sebagai Kepala Suku, tidak mau menyuruh atau memaksa untuk memilih salah satu calon. Itu adalah hak masing-masing. Asalkan, pilihlah calon pemimpin yang mengerti hakikat pemimpin. Bukan yang mencari uang dengan menjadi pemimpin.”

Tanpa imbauan untuk bubar, rakyat semut yang berkumpul di depan gerbang berdiri dan bubar dengan rapi. Mereka kembali ke tempat masing-masing. Sesuai kesibukan masing-masing. Mereka bahagia telah hidup di Suku Semut yang dipimpin raja bijak. Sayangnya, Kepala Suku Semut tak mau mencalonkan diri menjadi raja. Katanya, dia lebih nyaman berada di desa kecil, tanpa hiruk pikuk kelicikan seperti orang-orang atas yang kebanyakan munafik. (*)

 

Ardani H.K. adalah nama pena yang dipilih penulis. Saat ini, bertempat tinggal di Jember, Jawa Timur.

Arsip Cerpen di Indonesia