Belut yang Ingin Jadi Raja

“Betul. Betul.”

Sorak sorai semut-semut terdengar bergemuruh.

Memang benar. Akhir-akhir ini orang sadar jikalau Lebah yang dulu diturunkan secara paksa akibat kongkalikong Belut dan komplotannya, ternyata seorang wali.

“Wali kok dilawan. Sekarang rasakan akibatnya. Sampai tua tak tau arah pulang,” ucap semut bertongkat kembali.

“Betul. Betul.”

Kepala Suku tersenyum. Diam-diam dia menyetujui ucapan semut bertongkat barusan.

“Kalau begitu, usia tua, banyak pengalaman dan kepintaran, tidak menjamin kita bisa bijak, begitu?” semut muda masih bingung. Dia menatap pemimpinnya dengan mata tulus.

“Benar, Nak. Kalau hati kita masih menginginkan kekuasaan, penuh urusan duniawi, kita tak pernah bisa bijak. Seandainya dia jemawa menerima masa lalu, kita pasti mengenalnya sebagai sosok pejuang. Tidak seperti sekarang yang haus kekuasaan.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

“Kembalilah ke tempat masing-masing. Mari kerja kembali.”

“Tetapi, Kepala Suku. Kita tidak bisa berdiam diri, membiarkan kerajaan dipimpin orang yang haus kekuasaan.”

Kelapa Suku takjub dengan ucapan semut muda.

“Bagaimana kalau kita demo ke Istana?”

Kepala Suku menoleh ke arah Penasihat Suku. Sedangkan sang penasihat mengiyakan usulan semut muda. Namun, Kepala Suku Semut memiliki pertimbangan sendiri. Dengan bijak nan sabar dia tetap berdiri menghadap rakyatnya.

“Tak perlu. Buat apa kita berdemo kalau soal permainan politik? Lebih baik kita tetap bekerja demi kebutuhan sehari-hari. Politik itu mirip kubangan kotor. Tak ada tempat untuk bersuci.”

Si semut muda tak putus asa. Dia terus merayu.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berdoa bersama-sama? Mendoakan si Belut agar sadar kalau jalan hidup yang dipilihnya itu salah. Bukankah, selama ini kita selalu berdoa bersama, kalau ada pemimpin kerajaan yang tak paham makna kemimpinan?”

Memang betul. Kalau keadaan kerajaan dirasa genting, semut-semut bakal berbondong-bondong memenuhi halaman Suku Semut untuk mengelar doa bersama. Seminggu lalu mereka berdoa, saat ada mahapatih kerajaan yang baru terpilih, berteriak alhamdulillah karena sudah terpilih. Seolah-olah, menjadi mahapatih di kerajaan adalah lumbung nafkah. Padahal, di pundaknya ada amanat jutaan rakyat. Jadilah rakyat semut berdoa. Meminta Tuhan agar memberi hidayah kepada mahapatih tadi, kalau menjadi mahapatih itu bukan profesi. Bukan tempat mencari uang, tetapi sebagai jembatan.

Arsip Cerpen di Indonesia