“Sejak kita masuk memang tidak tertutup, Bu.”
Tadi ketika baru sampai di peluaran, aku segera masuk, tetapi rumah sepi. Tepat di ruang tamu, aku sudah melihat ketupat bersebelahan dengan semur yang membuatku lupa kondisi rumah sebelumnya. Makanya, aku coba menegur. Dan, ingatanku kembali setelah mendengar jawaban Firda. Aku membenarkan pintu memang tak tertutup.
Mungkin, Dewi sibuk di dalam, dugaku begitu ia tak juga terlihat. Hanya kupat dan semur di atas meja. Menu kesukaanku. Aku baru mengingatnya setelah berkali Firda, anak yang baru delapan tahun itu memintaku menemaninya ke rumah bibinya. Namun, sibuk dengan penataan macam menu dari kunjungan adik-adik iparku dan beberapa adik di pengajian, aku tidak menghiraukannya. Namun, begitu ia kembali meminta, aku berkata, “Nanti juga bibimu ke sini, Firda.”
“Sudah sore begini, Bu,” sahutnya segera seolah tak memastikan bibinya ke rumah hari itu.
Aku berhenti menata menu. Menoleh, “Sebentar lagi, Firda.” Aku memastikannya akan datang meski mendekati sore, bahkan malam.
“Sampai kapan, Bu?” desak Firda. Aku menduga, mungkin, merasa jenuh permintaannya sejak selesai shalat Id belum juga kupenuhi. Tapi, aku tak menghiraukannya. Lalu, aku kembali meletakkan menu-menu ke dalam lemari. Selintas aku melihat ayahnya masuk. Entah habis dari mana.
“Aku bersama ayah ke Telar ya, Bu?” Firda menyebut kampung bibinya tinggal. Ia bahagia menduga ayahnya akan menuruti keinginannya. Aku memasang pendengaran. Masih suntuk dengan menu-menu.
“Kamu mendengarnya, Resti?” Andre, suamiku memandangi. “Jangan diam saja, katakan kepadanya,” sarannya datar dengan tegas.
“Dewi akan ke sini, Bang.” Aku lebih tegas.
“Entah kapan.” Ia pun meragukan.
“Ditunggu saja.”
“Tapi, Firda meminta menemaninya,” tukasnya. Ia mendekati Firda yang sayu memandangiku. “Tidak berdosa kita lebih dahulu ke rumahnya kan?”