Mendengar perkataan ibu, aku mengangguk pelan sembari berusaha menyelipkan lembar-lembar dari jemariku, tapi lagi-lagi gagal. Dan merasa jenuh, aku meninggalkannya. Namun, kini bila ingin menikmati beras yang dimasak dalam cangkang ketupat, aku hanya berharap dari Dewi. Namun, bila kupat habis setelah menyimpannya beberapa hari, aku berkali mengeluh sendiri tidak bisa membuat cang kang ketupat.
Namun, ketika aku masih berdiri mengharap kemunculannya, Dewi bergegas dari ruang dapur. Aku lega. Tak terjadi sesuatu. “Kenapa Teteh yang harus ke sini?” tanya Dewi menyambut kami. Seolah tak menginginkan kami ke rumahnya.
Aku memandanginya. “Memangnya kenapa?” tanyaku segera.
Dewi tak menjawab. Melangkah mendekati kami. “Duduk saja dulu,” pintanya segera. Lalu ia mengambil bak ketupat, rending, dan rantang. Meletakkannya ke lantai antara meja dan lemari barang-barang yang tersandar di dinding. Lalu Dewi menyajikan kami bandeng masak kecap yang ia ambil dari kotak lemari.
Tanpa mengatakan aku suka kupat, apalagi bikinannya, aku menerima saja begitu ia memintaku menikmatinya. Tapi, aku berpikir, kalau berminat, setiap hari bisa saja aku mendapatkan menu semacam bandeng.
“Aku akan merapikan menu Lebaran.” Lalu Dewi duduk di lantai menghadapi bak dan baskom rendang. “Kita agak sore ke rumah Teteh,” kata Dewi sembari mengambil panci-panci yang tersusun di tangkai rantang.
Kenapa tidak sekarang saja, hatiku, hanya ingin segera menikmati kupat. Aku menduga ia menyiapkan untuk ke rumahku. Tapi, sembari menunggu kupat sampai di rumah, aku menikmati sajiannya meski tidak banyak. Dan, masakan bikinan Dewi memang benar-benar nikmat. Nasi pun terasa pulen, cukup membuatku ketagihan. Tapi, tidak mengalahkan kesukaanku kepada ketupat dan rendang olahannya.
Rantang itu kosong. Tidak ada isinya. Lalu Dewi memasukkan kupat dari bak kecil ke beberapa panci. Ia lebih dahulu meletakkan panci berisi rendang ke tangkai di susunan paling bawah. Tiga panci lainnya yang sudah dipenuhi ketupat di atasnya. Lalu ia menoleh. Aku pelan menikmatinya. Firda hanya diam, tapi tampak kebahagiaannya.
Lalu Dewi berdiri. Sembari mengambil rantang yang sudah siap bawa, ia berkata, “Aku akan ke rumah ibu Hajah Rumsinah dulu, ketua pengajian.”
Aku hanya diam. Pandanganku lekat ke rantang yang dibawa Dewi.■
Pengarengan, Juni 2018
Penulis adalah guru di Bekasi Kabupaten, kader muda NU di luar struktur. Ia bisa dihubungi di e-mail bangendin@yahoo.com.