“Kita berangkat sekarang, Bu,” sela Firda penuh harap sebelum aku menjawab pertanyaan ayahnya. Lalu, aku menoleh ke Firda. Aku mengerti kerinduannya kepada Dewi. Setiap kali kami ke rumahnya, perempuan yang belum memiliki anak itu memang senang mengemong anak seusianya. Apalagi, keponakannya sendiri. Tidak banyak mendiamkannya. Ia selalu mengajaknya ke manapun. Ke Pasar Pamor yang tidak jauh dari rumahnya. Bahkan, ia bisa kecewa bila Firda tak segera merespons permintaannya. Lalu ia menawarkan bermacam makanan atau kudapan kesukaannya. Dan, di Lebaran begini, ia berkeinginan ke rumah Dewi.
“Kamu tega tidak menuruti permintaannya, Resti,” sergahnya ketika aku masih diam. Lalu ia melangkah ke luar. Firda mengiringinya.
Aku segera menghentikan pekerjaan. “Sebentar, Firda.”
Firda berhenti. Membiarkan bapaknya berlalu. “Tapi, kenapa sebentar lagi, Bu, padahal rumah sudah sepi.”
Memang, setelah kunjungan terakhir dari teman pengajian, rumah sepi. Hanya aku sendiri. Firda lebih banyak masuk keluar rumah. Kini, aku baru mengerti ia dalam bingung setelah mengungkapkan keinginannya. Lalu, aku mendekati. Namun, ketika siap menemaninya, tiba-tiba aku diingatkan menu olahan Dewi. Ketupat legit yang diguyur kuah rendang daging kental dengan cita rasa bumbu yang kuat. “Kamu siap, Firda?” tanyaku pelan, tapi tegas memintanya bersiap.
Firda segera mengangguk. Aku senang. Tapi, aku menyesal kenapa tidak sedari tadi mengingat menu kesukaanku itu. Dengan kupat dan kuah rending tentu aku akan merasakan lebaran menjadi lebih sempurna. Memang, hanya di rumah Dewi kudapati, tidak ketupat di rumahku. Aku tidak bisa mengambil warisan membuat cangkang kupat dari almarhum ibu. Padahal berkali ibuku menegur, “Untuk di kampung kamu harus bisa membikin cangkang, Resti, biar gak repot harus ke pasar.”
Entah malas atau gak sabar, aku selalu salah mengatur jari-jemari tangan ke arah mana memasukkan lembar yang satu ke lainnya. “Sulit, Bu.”
“Tidak ada yang sulit, Resti.”
Aku tak berkata. Masih berusaha menyelipkan lembar-lembar daun nyiur yang sudah lepas dari tulangnya ke sela yang lain.
“Pesawat saja bisa dibikin, apalagi sekadar membuat seringan ini.” Ibu mem perlihatkan cangkang yang sedang ia jalin rapi.