Tentang Kerudung Baru Impian Ibu

Rambut panjang ibu kerap digulung pendek agar ketika keluar rumah, selendang tak lebar itu bisa menyembunyikan rambutnya. Namun, ketika bercermin, ibu tak bisa menyembunyikan kaca-kaca di bola matanya. Ya, ibu tersadar kalau selendang itu begitu tipis dan tembus pandang sehingga rambut hitamnya yang sebagian sudah memutih samar-samar cukup terlihat walau ada di balik selendang.

Itulah yang menyebabkan ibu hanya sekejap menghirup udara pagi di teras, karena tak ingin auratnya terlihat lelaki yang bukan muhrimnya. Setelah itu, ibu seharian di kamar, mencuri oksigen dari celah-celah jendela, sambil menahan pedih karena sudah bertahun-tahun lamanya setengah tubuh ibu sukar digerakkan. Hal yang menyebabkan bapak mengundurkan diri dari kehidupan kami karena ibu tak bisa menunaikan kewajiban lahir dan batin sebagai seorang istri.

Ingin rasanya aku meminjam atau meminta kerudung tetangga yang sudah tak terpakai biar ibu bisa leluasa menghirup udara luar kamar. Namun tetangga-tetanggaku yang sama-sama tinggal di kontrakan petak kumuh ini tak ada yang memakai kerudung. Entah, aku tak mau berprasangka buruk jika pengetahuan mereka tentang agama belum cukup—walau memang bisa saja karena alasan itu, tapi aku bisa memastikan urusan hidup, perut, dan pendidikan anak-anak mereka yang kerap putus di tengah jalan, adalah hal-hal yang menguras kepala untuk dipikirkan.

Bolehkan kefakiran hidup kami ini dijadikan alasan belum bisa menutup aurat dengan sempurna? Entahlah. Karena baru sekadar urusan perut dan tempat bernaung yang bisa dipenuhi para suami tetanggaku yang setiap hari bertarung dalam medan hidup sebagai kuli bangunan, tukang becak, atau yang senasib dengan yang bisa kulakoni sepulang sekolah: mengumpulkan dus dan botol minuman bekas.

Arsip Cerpen di Indonesia