Tentang Kerudung Baru Impian Ibu

Kulangkahkan kaki dengan gontai setelah salat Id usai. Harusnya ini hari kebahagian ibu. Harusnya aku bisa melihat senyum sumringah ibu ketika kukenakan kerudung baru ini di kepala ibu. Namun, kebahagian itu tak menjelma di Hari Raya ini. Rekah senyum ibu itu tak hadir di depan mataku, karena yang kukenakan kerudung baru ini bukan kepala ibu, tetapi sebatang nisan yang memuat nama ibu.

Ya, tiga hari sebelum lebaran hadir di tubuh kalender, ibu telah dijemput Izrail. Dalam keadaan tersenyum bahagia seakan-akan ia sedang tidak berjuang melawan penyakitnya. Dalam keadaan mempertahankan puasanya.

/H+1 Bulan/

Kakiku terpaku di mulut terminal. Mencari bus dengan jurusan yang kutuju. Seleksi SNMPTN-ku lulus melalui jalur bidik misi. Tentu saja di PTN idamanku. Namun aku masih ragu apakah aku akan mengambil kesempatan emas ini atau tidak. Bagaimanapun, biaya hidup selama kuliah harus diperhitungkan. Apalagi kini aku hidup sebatang kara.

Hasil seleksi beberapa tahap untuk menjadi karyawan sebuah pabrikdi kota industri turut membuatku bimbang untuk mengambil langkah melanjutkan pendidikan. Apalagi aku murni menjalani seleksi kerja ini dengan jalur mumi. Tak ada yang namanya melalui orang dalam atau memakai amplop pelicin agar lancar.

Sanubariku diliputi ragu: apakah bus jurusan kota kembang ataukah ibu kota untuk turun di kota industri tetangganya yang akan kupilih? Masih kupakukan kaki di mulut terminal. ***

Arsip Cerpen di Indonesia