Tentang Kerudung Baru Impian Ibu

/H-6 Bulan/

Libur semester ganjil telah usai. Ah, rasanya waktu terlalu cepat bergulir. Aku menginginkan libur yang lebih panjang agar pundi-pundi yang kukumpulkan bisa mencukupi kebutuhan hidup, sekolah, dan yang paling penting obat untuk ibu agar lekas sembuh dari stroke-nya. Selama ini, ketika hanya bisa mengumpulkan pundi-pundi lepas sekolah, aku hanya bisa membeli obat pereda nyeri. Tapi aku ingin ibu lekas sembuh, walau ibu begitu mahir menyembunyikan pedih dengan tetap tersenyum. Aku tahu, kepura-puraan ibu hanya sebagai tanda kalau tak ingin peluh terlalu deras mengalir di dahiku.

Selepas UAS, aku langsung pamit dari kehidupan sekolah, mengambil libur lebih awal. Tak ada yang namanya pengambilan rapor walau kata teman, aku masih mempertahankan peringkat dua. Percuma! Raporku tetap akan disandera. Sepanjang bergelar siswa SMA, aku belum pernah memegang rapor yang kata teman sebangkuku, nilai raporku cukup fantastis. Keenceran kepalaku hanya mampu menjerat beasiswa senilai 70% potongan biaya SPP tiap bulannya. Dan, 30%-nya selama duduk di kelas XII ini belum sebulan pun kubayar.

Biaya buku, biaya sehari-hari, telah menguras habis hasil keringatku setelah kupastikan ibu sudah mendapat obat pereda nyeri. Pundi-pundi hasil mengucurkan keringat selama libur tiga pekan, ibu sarankan untuk melunasi SPP. Lagi-lagi ibu hanya meminta obat pereda nyeri. Padahal, ingin sekali kubawa ibu ke dokter biar penderitaannya lekas usai, agar ibu bisa kembali menjalani hari dengan terbebas dari kaku setengah badannya.

/Hari H/

Kumandang takbir masih menggema sedari malam. Subuh baru saja usai. Sepekan silam, kucukur rambut sependek mungkin agar peci hadiah dari lomba kultum di sekolah tahun lalu masih muat di kepalaku. Tak ada aroma baru yang melekat di tubuhku. Tak apa, aku hanya ingin melihat senyum ibu merekah di Hari Raya.

Kupandangi kerudung panjang impian ibu berwarna hijau muda. Kutatap lamat jilbab panjang idaman ibu berwarna biru langit. Dua warna kesukaan ibu. Dua kerudung baru yang kubeli kemarin pagi. Ibu pasti akan sangat gembira sekali karena bisa berlama-lama menghirup udara di luar rumah kontrakan petak kami tanpa merasa buru-buru kembali ke kamar takut ada yang bukan muhrimnya melihat rambut ibu yang biasanya terselimuti selendang tembus pandang.

Arsip Cerpen di Indonesia