Tukang Kasur

Sehari-hari ia dikenal sebagai tukang kasur. Di rumahnya yang menempel dengan bantaran sungai, banyak sekali terdapat kasur bekas. Untuk mendapatkan bahan-bahan membuat kasur, Mak Samah akan menghadang kasur-kasur bekas yang hanyut dari hulu.

Seperti biasa kalau ada warga yang meninggal dunia, benda-benda milik mendiang, seperti pakaian, kasur, bantal, dan lain-lain, akan dibuang oleh keluarganya, dengan alasan supaya mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi alasan yang sesungguhnya adalah rasa takut pada orang mati. Orang-orang di kota kami sangat takut pada orang mati, hatta yang mati itu adalah orang yang sangat mereka cintai. Apalagi yang mati dengan tidak wajar seperti bunuh diri atau dibunuh, orang-orang amat ketakutan. Dari peristiwa kematian itu juga akan muncul berbagai cerita horror tentang hantu pocong yang gentayangan di malam hari, karena yang bersangkutan belum rela meninggalkan dunia ini. Kepercayaan berbau takhayul itu telah menginspirasi beberapa televisi swasta untuk menggarap tayangan bertema hantu, sehingga semakin sempurnalah kebodohan masyarakat yang tidak punya tradisi membaca ini. Mereka tumbuh menjadi masyarakat yang naif, yang takut pada perasaannya sendiri. Sehingga barang-barang milik mendiang seperti pakaian, kasur, bantal, dan lain-lain, akan dibuang ke sungai.

Dengan modal rakit bambu dan galah pengait, Mak Samah akan menjemput setiap kasur bekas yang hanyut di sungai, lalu menyeretnya ke pinggir. Sehari ia bisa mendapatkan 3 atau 4 kasur bekas, tergantung jumlah orang yang meninggal. Semakin banyak orang yang meninggal dunia akan semakin banyak ia mendapatkan kasur bekas. Ketika musim krismon tempo hari, Mak Samah bisa mendapatkan 6 sampai 10 kasur bekas sehari, karena banyak sekali warga yang meninggal akibat kurang gizi atau busung lapar. Sehingga saat-saat krisis seperti itu akan selalu ditunggu-tunggu oleh Mak Samah. Kalau pada hari-hari biasa pemasukan Mak Samah rata-rata Rp 150-250 ribu perhari, tapi di musim krisis, ketika warga menjerit-jerit untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, Mak Samah justru sebaliknya, pendapatannya meningkat tiga kali lipat, sehingga ia bisa membangun sebuah rumah batu di kampung, yang kini ditempati keluarganya.

Arsip Cerpen di Indonesia