Seketika terjadi kehebohan di rumah itu. Padahal baru saja ditinggalkan oleh tamu-tamu yang menghadiri acara akad-nikah. Sikap Marni yang kekanak-kanakan membuat keluarga Gufron sangat tersinggung. Merasa terhina.
“Pokoknya ceraikan! Kalau tidak, kamu pergi dari rumah ini!” ancam Ayahnya.
“Ya, almarhum kakekmu itu Lurah. Masak keluarga Lurah dihina oleh anak tukang odong-odong.” timpal pamannya, memanas-manasi.
“Pokoknya ceraikan! Tidak bisa ditawar-tawar lagi!” ulang Ayahnya, tersinggung.
Gufron tidak berkutik. Ditekan kiri-kanan, ia hanya tertunduk menahan marah. Di dadanya seolah ada bom molotov yang siap meledak. Ia berdiri dan berjalan ke arah dapur, melewati tumpukan kado yang terserak di karpet. Di dapur Gufron mengambil pisau, lalu keluar lewat pintu belakang dan menghilang dalam gelap.
***
Pagi ini warga menemukan mayat Mak Samah mengambang di Kali Suwung, tersangkut di rumpun enceng gondok. (*)
Mataram, 2017
Sejumlah cerpen Adam Gottar Parra telah diterbitkan di media massa.